Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

WISATA YANG DITULISKAN: AI, LITERASI DIGITAL, DAN MASA DEPAN PARIWISATA

Program Pendidikan

WISATA YANG DITULISKAN: AI, LITERASI DIGITAL, DAN MASA DEPAN PARIWISATA

Oleh Dirk Sandarupa

 

Program Obsesi di PRO 1 RRI Makassar menghadirkan diskusi inspiratif bertajuk “Wisata yang Dituliskan” dengan menghadirkan dua narasumber, Ismail, S.E., M.M., C.FD., C.AIM. dan Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE. Dipandu host Arty Alfiart, dialog ini membahas bagaimana kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai membuka peluang baru dalam dunia literasi digital dan pariwisata di era modern.

Dalam pemaparannya, Ismail melihat AI bukan sebagai ancaman bagi dunia literasi, melainkan alat bantu yang mampu mempercepat proses kreatif, riset, hingga publikasi digital. Menurutnya, perkembangan AI dapat membantu penulis, akademisi, maupun pelaku wisata dalam menghasilkan konten yang lebih menarik, informatif, dan mudah menjangkau masyarakat luas melalui platform digital.

Ia juga menekankan bahwa pemanfaatan AI saat ini telah mendapatkan perhatian dalam berbagai regulasi nasional. Beberapa aturan seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), perlindungan data pribadi, hingga regulasi hak cipta menjadi dasar penting agar penggunaan AI tetap etis dan bertanggung jawab di ruang digital.

Menurut Ismail, S.E., M.M., C.FD., C.AIM., penggunaan berbagai AI tools dalam penulisan perlu terus ditingkatkan, khususnya di kalangan mahasiswa pariwisata. Ia menilai mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton atau sekadar pembaca informasi di era digital, tetapi juga harus tampil sebagai pembuat konten, penulis, dan pemberi informasi yang aktif.

“Mahasiswa pariwisata harus mampu menciptakan karya-karya digital, menulis tentang destinasi, budaya, hingga pengalaman wisata. AI bisa menjadi alat bantu untuk memperkuat kreativitas dan produktivitas mereka,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dunia pariwisata membutuhkan narasi yang kuat agar destinasi lokal dapat dikenal lebih luas. Dengan bantuan AI, pelaku wisata maupun mahasiswa kini memiliki peluang besar untuk menghasilkan artikel, media promosi, hingga konten edukatif yang lebih cepat dan inovatif tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.

Sementara itu, Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE. melihat peluang besar kolaborasi antara AI dan pariwisata, terutama dalam era digital yang semakin kompetitif. Menurutnya, AI dapat membantu pengembangan wisata berbasis budaya, promosi destinasi, pengarsipan kearifan lokal, hingga penguatan wisata literasi yang kini mulai berkembang di berbagai daerah.

Dirk juga menyoroti masih minimnya karya penulisan akademisi pariwisata, khususnya dalam bentuk buku. Padahal, menurutnya, sektor pariwisata memiliki begitu banyak cerita, penelitian, budaya, dan pengalaman lapangan yang seharusnya dapat didokumentasikan menjadi karya ilmiah maupun populer.

“Pariwisata tidak hanya cukup dipromosikan lewat gambar dan video, tetapi juga harus dituliskan. Buku, artikel, dan karya literasi menjadi warisan pengetahuan yang penting untuk generasi berikutnya,” ungkap Dirk.

Diskusi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa transformasi digital bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana manusia mampu memanfaatkannya untuk memperkuat literasi, budaya, dan masa depan pariwisata Indonesia.

 

=======-

TOURISM THAT IS WRITTEN”: AI, DIGITAL LITERACY, AND THE FUTURE OF TOURISM

by Dirk Sandarupa

 

The Obsesi program on PRO 1 RRI Makassar presented an inspiring discussion entitled “Tourism That Is Written”, featuring *Ismail, S.E., M.M., C.FD., C.AIM.and Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE. Hosted by Arty Alfiart, the discussion explored how Artificial Intelligence (AI) is opening new opportunities in digital literacy and the tourism industry in today’s modern era.

In his presentation, Ismail explained that AI should not be seen as a threat to literacy, but rather as a supporting tool that can accelerate creative processes, research, and digital publication. According to him, the development of AI can help writers, academics, and tourism practitioners produce more engaging, informative, and accessible content for wider audiences through digital platforms.

He also emphasized that the use of AI has gained attention within national regulations. Several laws, including regulations related to electronic information, personal data protection, and copyright, are becoming important foundations to ensure that AI is used ethically and responsibly in digital spaces.

According to Ismail, S.E., M.M., C.FD., C.AIM., the use of AI tools in writing should continue to be improved, especially among tourism students. He believes that students should not remain mere spectators or readers of information in the digital era, but must become active creators, writers, and providers of information.

“Tourism students should be able to create digital works, write about destinations, culture, and tourism experiences. AI can become a supporting tool to strengthen their creativity and productivity,” he stated.

He added that the tourism sector requires strong storytelling and narratives so that local destinations can gain wider recognition. With the support of AI, tourism practitioners and students now have greater opportunities to produce articles, promotional media, and educational content more quickly and innovatively while still preserving local cultural identity.

Meanwhile, Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE. highlighted the enormous potential for collaboration between AI and tourism, especially in today’s increasingly competitive digital era. According to him, AI can support the development of culture-based tourism, destination promotion, preservation of local wisdom, and the strengthening of literary tourism movements that are beginning to grow in various regions.

Dirk also pointed out the limited number of written works produced by tourism academics, particularly books. In his view, tourism contains countless stories, research findings, cultural values, and field experiences that should be documented in academic and popular publications.

“Tourism should not only be promoted through pictures and videos, but it must also be written. Books, articles, and literary works become an important legacy of knowledge for future generations,” Dirk explained.

The discussion served as a reminder that digital transformation is not only about technology, but also about how people can utilize it to strengthen literacy, culture, and the future of Indonesian tourism.