Brodin di Prancis dan Kesopanan yang Terlalu Halus
Brodin tiba di Paris pada pagi hari. Kota terlihat indah, orang-orang berjalan cepat dengan wajah serius tapi elegan. Brodin merapikan jaketnya dan masuk ke sebuah kafe kecil.
Begitu masuk, ia langsung menyapa.
Brodin:
« Bonjour »
Bon-jour
(Halo)
Barista mengangkat alis, lalu mengangguk pelan.
Barista:
« Bonjour, monsieur »
(Halo, Tuan)
Brodin lega. Ia ingat satu hal penting: di Prancis, tidak menyapa itu dosa sosial.
Ia menunjuk menu.
Brodin:
« Un café, s’il vous plaît »
Ang kafé, sil vu ple
(Satu kopi, tolong)
Barista menatapnya.
Barista:
« Ici ou à emporter ? »
Isi u a amporté?
(Minum di sini atau dibawa?)
Brodin (sedikit gugup):
« Ici, merci »
(Di sini, terima kasih)
Kopi datang. Kecil. Sangat kecil.
Brodin menatap cangkirnya, lalu menatap barista. Ia bingung, tapi terlalu sopan untuk bertanya.
Barista datang lagi.
Barista:
« Ça va ? »
Sa va?
(Gimana?)
Brodin (jujur):
« Ça va »
(Baik)
Barista tersenyum tipis. Hubungan mereka resmi baik-baik saja.
Saat membayar, Brodin berkata:
Brodin:
« Merci beaucoup »
(Terima kasih banyak)
Barista mengangguk, tanpa senyum berlebihan.
Di luar kafe, Brodin duduk dan menyeruput kopi kecil itu dengan serius, seolah sedang meditasi.
Ia menulis di catatannya:
“Di Prancis, sopan itu wajib. Terlalu ramah dianggap aneh. Kopinya kecil, tapi aturannya besar.”
=======-
Brodin in France and Extremely Subtle Politeness
Brodin arrived in Paris in the morning. Everyone looked elegant and busy. He entered a café and remembered one rule: always say hello.
“Hello,” he said politely.
The barista nodded. Social disaster avoided.
Brodin ordered a coffee. It arrived very small. Emotionally small.
When asked how it was, Brodin replied, “It’s fine.”
Perfect answer. No drama.
Outside, Brodin sipped the tiny coffee and wrote:
“In France, politeness is mandatory.
Too friendly is suspicious.
The coffee is small, but the rules are not.”










