BRODIN DI HONG KONG: TERLALU LAMBAT DI KOTA YANG CEPAT
Brodin berada di Hong Kong pada sore hari. Gedung tinggi menjulang, lampu neon mulai menyala, dan orang-orang berjalan sangat cepat. Brodin berdiri di pinggir jalan Mong Kok dengan kamera di leher, jas hitam rapi, kaos merah sleret-sleret terlihat jelas. Mulutnya tertutup. Ia mengamati.
Ia mendekati sebuah warung makan kecil.
Pedagang:
「要唔要?」
Yiu m4 yiu?
(Mau atau tidak?)
Brodin terdiam.
Ia masih menerjemahkan di kepala.
Brodin:
「呃……睇睇先。」
Uh… tai tai sin.
(Ehm… lihat-lihat dulu.)
Pedagang langsung menoleh ke pelanggan lain.
Brodin kaget.
Di Indonesia, “lihat-lihat dulu” artinya bisa beli.
Di Hong Kong, itu artinya tidak.
Brodin melangkah ke toko minuman.
Kasir:
「飲咩?」
Yam me?
(Minum apa?)
Brodin (jujur tapi pelan):
「凍茶。」
Dung cha.
(Teh dingin.)
Kasir langsung menuang, tanpa senyum, tanpa basa-basi.
Kasir:
「十蚊。」
Sap man.
(Sepuluh dolar.)
Brodin menyerahkan uang dengan dua tangan, sopan.
Kasir sudah melayani orang lain.
Brodin duduk di bangku kecil. Ia tersenyum tipis, lalu menutup mulut lagi.
Seorang pria duduk di sebelahnya.
Pria:
“You tourist?”
Brodin:
“Yes.”
(Iya.)
Pria:
“You very slow.”
(Kamu lambat sekali.)
Brodin mengangguk sopan.
Brodin:
“Yes, I like slow.”
(Iya, saya suka pelan.)
Pria itu tertawa.
Pria:
“Hong Kong no wait.”
(Hong Kong tidak menunggu.)
Brodin mengangguk lagi.
Saat menyeberang jalan, lampu hijau hanya sebentar.
Brodin hampir tertinggal.
Ia berhenti, menarik napas, lalu menulis di buku kecilnya:
“Di Hong Kong, cepat itu sopan.
Diam terlalu lama berarti selesai.
Kalau mau bertahan, jangan mikir lama.”
=======-
Brodin in Hong Kong: Too Slow for a Fast City
Brodin arrived in Hong Kong and immediately realized something was wrong.
Everyone moved fast.
Brodin did not.
At a food stall, when asked “Do you want it?”, Brodin said, “Let me look first.”
That meant “no” in Hong Kong.
At a drink stall, Brodin ordered iced tea politely.
The cashier already moved on before Brodin finished smiling.
A man told him, “You are very slow.”
Brodin politely agreed.
“In Hong Kong,” he wrote,
“Speed is manners.
Thinking too long is a decision.
And politeness must keep up.”










