Tabel Komparatif Potret Pariwisata Bali 2024–2025
| Indikator Utama | 2024 (Realisasi) | 2025 (Realisasi / Estimasi Akhir Tahun) | Catatan Analitis |
| Kunjungan Wisman ke Bali | ± 6,33 juta | ± 6,8 – 7,0 juta | Melewati level pra-pandemi (2019 ± 6,3 juta) |
| Kunjungan Wisnus ke Bali | ± 9,7 juta | ± 10,2 – 10,5 juta | Didominasi libur panjang & MICE domestik |
| Kontribusi Devisa Pariwisata Bali* | ± USD 9,5 – 10 miliar | ± USD 10,5 – 11,5 miliar | Estimasi berbasis spending & length of stay |
| Pungutan Wisatawan Asing (PWA) | ± Rp285 miliar | ± Rp369 miliar | Masih di bawah target APBD 2025 |
| TPK Hotel Bintang (rata-rata tahunan) | ± 62,1% | ± 60,8% | Stabil, namun terjadi penurunan tipis |
| TPK Hotel Non-Bintang | ± 38–40% | ± 35–37% | Terdampak persaingan akomodasi informal |
| Puncak Okupansi Musiman | 80–90% | 85–95% | Terjadi pada Nataru & libur sekolah |
*Catatan: Bali tidak merilis devisa daerah secara resmi; angka merupakan estimasi akademik dari proporsi nasional dan rata-rata belanja wisman Bali.
Analisis Akademis
(1) Secara kuantitatif, pariwisata Bali tahun 2025 menunjukkan performa yang melampaui fase pemulihan dan memasuki tahap konsolidasi pertumbuhan. Kunjungan wisman yang diperkirakan mencapai hampir 7 juta menandakan bahwa Bali telah kembali menjadi destinasi internasional utama Indonesia, bahkan sedikit melampaui capaian pra-pandemi.
(2) Dari sisi ekonomi, estimasi devisa pariwisata Bali sebesar USD 10,5–11,5 miliar mengindikasikan kontribusi yang sangat dominan terhadap ekonomi daerah. Namun, perbandingan dengan pungutan wisatawan asing (Rp369 miliar) menunjukkan bahwa peningkatan volume kunjungan belum sepenuhnya terkonversi menjadi pendapatan fiskal daerah secara optimal.
(3) Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang yang berada di kisaran 60–61% menunjukkan kondisi pasar yang relatif sehat, tetapi masih di bawah ambang ideal destinasi mature (70–75%). Hotel non-bintang menghadapi tantangan struktural akibat persaingan dengan vila, homestay digital, dan akomodasi berbasis platform daring.
(4) Jika dibandingkan dengan perencanaan pembangunan pariwisata Bali (yang menekankan kualitas, keberlanjutan, dan pengendalian daya dukung), realisasi 2025 sesuai secara kuantitas, namun belum sepenuhnya sejalan secara kualitas. Indikator tekanan lingkungan, kepadatan destinasi, serta fluktuasi okupansi menunjukkan bahwa pertumbuhan belum sepenuhnya terkendali.
(5) Secara ilmiah, potret pariwisata Bali 2025 dapat disimpulkan sebagai “successful recovery with structural challenges”. Bali berhasil memulihkan jumlah kunjungan dan devisa, tetapi menghadapi tantangan dalam distribusi manfaat ekonomi, optimalisasi pendapatan daerah, dan kesinambungan lingkungan—isu-isu yang secara eksplisit menjadi fokus utama dalam perencanaan pariwisata Bali ke depan.










