SERIAL LEADERSHIP: SOCIAL INTELLIGENCE
Pada suatu hari, terjadi pergerakan kilat yang dilakukan oleh pasukan berseragam militer. Sekelompok tentara itu merangsek menuju sebuah masjid dengan tujuan menyalurkan bantuan yang mereka bawa. Ratusan warga saleh berkumpul untuk melindungi para ulama, sambil berteriak dan mengangkat tangan ke arah pasukan bersenjata tersebut.
Melihat situasi tersebut, komandan pasukan, Kapten Brodin, menginstruksikan anggotanya untuk tersenyum, berlutut dengan satu kaki, serta menurunkan arah senjata ke tanah.
Dalam sekejap, kondisi mulai berubah. Sebagian massa masih berteriak, namun sebagian lainnya mulai membalas dengan senyuman. Brodin kemudian memerintahkan anggotanya untuk mundur secara perlahan sambil tetap tersenyum.
Brodin mampu membaca keadaan dan memahami tindakan apa yang dapat meredakan ketegangan serta mengurangi rasa permusuhan. Peristiwa ini menjadi contoh bagaimana ia bersikap saat berhadapan dengan warga sipil yang tengah diliputi kemarahan. Hal tersebut mencerminkan apa yang dikenal sebagai “social intelligence.”
Dalam situasi menghadapi individu yang bersikap tidak bersahabat, manusia memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan, apakah menghindar atau menghadapi keadaan tersebut. Kepekaan interpersonal semacam inilah yang berperan penting dalam keberlangsungan hidup manusia hingga saat ini.
TIM










