Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

Samudera Pasai: Ketika Islam Pertama Kali Berlabuh dengan Santun

Sejarah

Samudera Pasai: Ketika Islam Pertama Kali Berlabuh dengan Santun

Sejarah penyebaran Islam di Nusantara umumnya diawali dari Kesultanan Samudera Pasai, sebuah kerajaan pesisir di Aceh Utara yang berkembang pada akhir abad ke-13 Masehi. Bukti arkeologis paling kuat adalah nisan Sultan Malik al-Saleh bertahun 1297 M, yang oleh para sejarawan dianggap sebagai penanda resmi berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia. Letak Samudera Pasai yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka menjadikannya simpul pertemuan pedagang Arab, Persia, Gujarat, dan Tiongkok. Di sinilah Islam datang bukan sebagai tamu yang memaksa, melainkan sebagai sahabat perjalanan dalam dunia niaga yang ramai dan penuh tawar-menawar.

Catatan pelancong asing menguatkan posisi Samudera Pasai dalam sejarah Islamisasi awal. Marco Polo, saat singgah di Sumatra tahun 1292 M, mencatat adanya komunitas Muslim di wilayah pesisir. Lebih rinci lagi, Ibnu Battuta, ulama dan musafir asal Maroko, mengunjungi Samudera Pasai sekitar tahun 1345–1346 M. Ia menulis bahwa Sultan Pasai adalah penganut mazhab Syafi’i yang taat dan aktif menjalin hubungan keilmuan dengan ulama Timur Tengah. Gambaran ini menunjukkan bahwa Pasai bukan hanya pusat kekuasaan, tetapi juga pusat studi Islam regional—semacam “kampus terbuka” sebelum istilah seminar dan simposium dikenal.

Proses penyebaran Islam di Samudera Pasai berlangsung melalui pendekatan kultural, ekonomi, dan sosial. Para ulama berperan sebagai pendakwah sekaligus penasihat istana, sementara para pedagang Muslim menunjukkan etika bisnis yang jujur dan egaliter. Sejarawan Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara (2004) menegaskan bahwa Samudera Pasai terhubung dalam jaringan keilmuan internasional dengan Gujarat, Yaman, dan Mekkah. Artinya, sejak awal Islam di Nusantara sudah bersifat kosmopolitan—global sebelum kata global itu sendiri menjadi tren.

Dari Samudera Pasai, Islam kemudian menyebar ke wilayah lain seperti Perlak, Aceh Darussalam, hingga pesisir utara Jawa. Pola penyebaran yang damai, adaptif, dan dialogis inilah yang kelak diwarisi oleh para tokoh penyebar Islam berikutnya, termasuk para Wali Songo. Samudera Pasai menjadi fondasi penting bahwa Islam di Indonesia tumbuh melalui proses perjumpaan budaya, bukan penyeragaman. Sebuah pelajaran sejarah yang terasa relevan hingga hari ini, ketika dakwah tak lagi berlayar dengan kapal kayu, melainkan dengan sinyal dan jaringan digital.

TIM

 

=======-

Samudera Pasai: The Gentle First Landing of Islam in the Archipelago

The history of Islam in the Indonesian archipelago is generally traced back to the Samudera Pasai Sultanate, a coastal kingdom in North Aceh that flourished in the late thirteenth century. The most convincing archaeological evidence is the tombstone of Sultan Malik al-Saleh dated 1297 CE, which scholars widely regard as proof of the earliest institutionalized Islamic rule in Indonesia. Strategically located along the Malacca Strait, Samudera Pasai became a meeting point for Arab, Persian, Gujarati, and Chinese merchants. Islam arrived here not through conquest, but through trade networks characterized by interaction, negotiation, and mutual benefit.

Accounts from foreign travelers further strengthen Samudera Pasai’s historical significance. Marco Polo, during his visit to Sumatra in 1292 CE, recorded the presence of Muslim communities along the coast. More detailed observations were provided by Ibn Battuta, a Moroccan scholar who visited the kingdom around 1345–1346 CE. He described the Sultan as a devout follower of the Shafi‘i school and noted the active exchange of scholars between Pasai and the Middle East, indicating the kingdom’s role as an early regional center of Islamic learning.

The spread of Islam in Samudera Pasai occurred through cultural, economic, and social channels. Religious scholars functioned both as preachers and royal advisors, while Muslim traders demonstrated ethical commercial practices that attracted local populations. Historian Azyumardi Azra, in The Network of Middle Eastern and Archipelagic Ulama (2004), emphasizes that Samudera Pasai was integrated into international Islamic scholarly networks connecting Gujarat, Yemen, and Mecca. This illustrates that Islam in the archipelago was globally connected from its earliest phase.

From Samudera Pasai, Islam gradually expanded to regions such as Perlak, Aceh Darussalam, and eventually the northern coast of Java. This peaceful, adaptive, and dialogical model of Islam later influenced subsequent missionaries, including the Wali Songo. Samudera Pasai thus laid the foundation for a distinctive pattern of Islam in Indonesia—one that grew through cultural engagement rather than uniformity, a historical lesson that remains highly relevant today.

THE TEAM