Public Relation – Suara Hotel di Ruang Publik
Public Relation (PR) hotel bekerja di wilayah yang paling sensitif: persepsi publik. Mereka tidak hanya berbicara ketika hotel dipuji, tetapi justru paling sibuk saat hotel disalahpahami. Ketika ada keluhan viral, isu pelayanan, atau kejadian tak terduga, PR menjadi juru bicara yang harus tenang, cepat, dan tepat. Di hotel, PR bukan sekadar pembuat rilis berita, melainkan penjaga reputasi di mata publik.
Secara akademis, peran PR dalam industri perhotelan berkaitan erat dengan crisis communication dan reputation management. Coombs (2018) dalam Ongoing Crisis Communication menjelaskan bahwa respons cepat dan empatik dapat menurunkan dampak krisis reputasi hingga 30%. Data Edelman Trust Barometer (2022) menunjukkan bahwa 63% konsumen lebih percaya pada organisasi yang komunikasinya terbuka dan konsisten saat menghadapi masalah.
Di Indonesia, studi oleh LSPR Institute (2021) menunjukkan bahwa sektor pariwisata sangat rentan terhadap isu reputasi karena tingginya eksposur media dan media sosial. Menurut Sari Mahendra, Public Relation Manager hotel bintang lima di Jakarta (wawancara, 2023), tantangan terbesar PR adalah menjaga keseimbangan antara transparansi dan citra. Penelitian Kim dan Liu (2020) menegaskan bahwa pendekatan komunikatif yang manusiawi lebih efektif dibandingkan pernyataan defensif dalam memulihkan kepercayaan publik.
Kesimpulannya, Public Relation adalah suara hotel di ruang publik. Mereka bekerja dengan kata, empati, dan strategi komunikasi. Di industri perhotelan, reputasi tidak dibangun hanya dari pelayanan di dalam hotel, tetapi juga dari bagaimana hotel berbicara dan bersikap ketika sorotan publik datang.
TIM
=======-
PUBLIC RELATION: THE HOTEL’S VOICE IN THE PUBLIC SPHERE
Public Relations (PR) operates in the most sensitive territory: public perception. They are not only active when hotels receive praise, but are busiest when misunderstandings arise. During viral complaints, service issues, or unexpected incidents, PR becomes the calm and strategic spokesperson. In hotels, PR is not merely about press releases, but about safeguarding reputation in the public eye.
Academically, PR in hospitality is closely linked to crisis communication and reputation management. Coombs (2018), in Ongoing Crisis Communication, explains that fast and empathetic responses can reduce reputational crisis impact by up to 30 percent. The Edelman Trust Barometer (2022) reports that 63 percent of consumers trust organizations more when communication is open and consistent during crises.
In Indonesia, research by the LSPR Institute (2021) indicates that the tourism sector is highly vulnerable to reputational issues due to intense media exposure. Sari Mahendra, Public Relation Manager of a five-star hotel in Jakarta (interview, 2023), stated that the greatest challenge is balancing transparency with brand image. Kim and Liu (2020) support this by highlighting that human-centered communication is more effective than defensive statements in restoring public trust.
In conclusion, Public Relations serves as the hotel’s voice in the public sphere. Working with words, empathy, and strategy, PR shapes how hotels are perceived beyond their walls. In hospitality, reputation is built not only through service delivery, but through how a hotel communicates when public attention intensifies.
THE TEAM
Berita Terkait
THE BUDGETING – Kesalahan Fatal dalam Budgeting dan Dampaknya terhadap Kinerja Hotel Dalam praktik manajemen hotel, penyusunan anggaran (budgeting) merupakan salah satu instrumen strategis yang berfungsi mengarahkan organisasi menuju pencapaian tujuan keuangan dan operasional. Namun demikian, banyak organisasi gagal memperoleh manfaat optimal dari budgeting karena melakukan berbagai kesalahan mendasar dalam proses perencanaan, implementasi, dan pengendaliannya. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat mengurangi efektivitas budget sebagai alat manajemen dan berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan. Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah menjadikan budget hanya sebagai formalitas administratif untuk memenuhi kebutuhan pelaporan atau persyaratan organisasi. Dalam kondisi ini, budget disusun setiap tahun tetapi tidak digunakan secara aktif sebagai dasar pengambilan keputusan. Akibatnya, berbagai keputusan strategis dan operasional dilakukan tanpa mempertimbangkan target serta asumsi yang telah ditetapkan dalam anggaran. Kesalahan lainnya adalah terlalu berfokus pada pengendalian biaya (cost control) tanpa memperhatikan penciptaan nilai (value creation). Pendekatan yang hanya berorientasi pada pengurangan biaya dapat menghambat inovasi, menurunkan kualitas layanan, serta mengurangi kemampuan hotel dalam menciptakan pengalaman tamu yang unggul. Selain itu, kegagalan melibatkan departemen terkait dalam proses budgeting sering kali menyebabkan rendahnya komitmen terhadap pencapaian target yang telah ditetapkan. Budget juga akan kehilangan relevansinya apabila tidak diperbarui secara berkala sesuai dengan perubahan kondisi bisnis. Lingkungan bisnis yang dinamis menuntut organisasi untuk melakukan evaluasi dan penyesuaian anggaran secara berkelanjutan agar tetap selaras dengan kondisi pasar dan kebutuhan operasional. Bagi seorang General Manager, kesalahan terbesar dalam budgeting bukanlah membuat anggaran yang kurang sempurna, melainkan menyusun budget yang baik tetapi tidak digunakan dalam pengelolaan bisnis sehari-hari. Oleh karena itu, budget harus menjadi alat manajemen yang hidup, digunakan secara aktif dalam pengambilan keputusan, evaluasi kinerja, serta pengendalian organisasi untuk mencapai tujuan jangka panjang secara efektif dan berkelanjutan. ======== Fatal Budgeting Mistakes and Their Impact on Hotel Performance In hotel management practice, budgeting serves as a strategic instrument that guides organizations toward achieving their financial and operational objectives. However, many organizations fail to realize the full benefits of budgeting because of fundamental mistakes in the planning, implementation, and control processes. These mistakes reduce the effectiveness of budgeting as a management tool and can negatively affect overall organizational performance. One of the most common mistakes is treating the budget merely as an administrative formality designed to satisfy reporting requirements or organizational procedures. In such situations, budgets are prepared annually but are not actively used as a basis for decision-making. Consequently, strategic and operational decisions are often made without considering the targets and assumptions established within the budget. Another significant mistake is focusing excessively on cost control while neglecting value creation. A budgeting approach that concentrates solely on reducing expenses may hinder innovation, lower service quality, and weaken the hotel’s ability to create superior guest experiences. Furthermore, failing to involve operational departments in the budgeting process often results in low commitment and limited ownership of financial targets across the organization. Budgets also lose their effectiveness when they are not updated regularly to reflect changing business conditions. In a dynamic business environment, organizations must continuously review and adjust financial projections to ensure alignment with market developments and operational realities. For a General Manager, the greatest budgeting failure is not creating an imperfect budget, but rather developing a well-prepared budget that is never utilized in daily business management. Therefore, budgeting should function as a living management tool that actively supports decision-making, performance evaluation, and organizational control. When used effectively, budgeting becomes a strategic mechanism that helps hotels achieve sustainable growth, operational excellence, and long-term profitability.