PROFILE: MAS SETIAWAN DJODY
35 tahun silam, semasa menjadi mahasiswa yang belajar Pendidikan dan Sastera Inggris, saya hanya mampu mendengar pergerakan KANTATA TAKWA. Maklum, kuliah di Unram – Lombok, jauh dari Jakarta. Boro-boro nonton konsernya, bisa baca artikelnya di koran atau majalah saja sudah merasa berada ditengah-tengah mereka.
Tahun 90an, tidak ada mahasiswa Sastera yang tak mengenal sosok WS Rendra. Ia ikon sajak berjalan. Sajaknya yang bisa menundukkan lawan jenis dan membangunkan punggawa pemerintah Orde Baru untuk memenjarakannya. Ia bergabung di Kantata Takwa bersama gitaris dan konglomerat Setiawan Djody.
Wikipedia menarasikan: Kantata Takwa adalah sebuah band supergrup yang terlahir dari proses interaksi ego-ego besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Kantata Takwa terdiri atas 7 orang personil yang di antaranya, Iwan Fals, Sawung Jabo, Setiawan Djody, Jockie Surjoprajogo, WS Rendra, Donny Fatah dan Innisisri.
Dari nama-nama personil tersebut dapat dilihat bahwa band ini bukan sekadar band biasa yang hanya menghasilkan lagu semata. Band Kantata Takwa menjelma menjadi ruang diskusi yang membicarakan isu-isu kontekstual, serta pengejawantahan kreativitas dari sensitivitas sosio-estetik para personelnya.
Suatu saat, di Jakarta, saya sempatkan bertemu dengan pentolan Kantata Takwa, Bang Djody. Ia tetap cool dan santun. Tetap respek padanya yang tak pernah tergiur oleh ajakan politik hingga kini.










