Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

Perlak: Dari Pelabuhan Kecil Menjadi Pusat Mazhab Syafi’i

Sejarah

Perlak: Dari Pelabuhan Kecil Menjadi Pusat Mazhab Syafi’i

Setelah Samudera Pasai mengukuhkan diri sebagai kerajaan Islam awal, sejarah mencatat Kerajaan Perlak di Aceh Timur sebagai wilayah penting dalam konsolidasi Islam di Nusantara. Perlak diperkirakan telah mengenal Islam sejak abad ke-9 Masehi, jauh sebelum Pasai berjaya, meski bentuk kerajaannya baru menguat kemudian. Sumber lokal seperti Hikayat Raja-Raja Pasai menyebutkan bahwa Perlak merupakan daerah strategis penghasil kayu perlak, komoditas penting bagi pembuatan kapal. Pelabuhan kecil ini menjadi tempat singgah para saudagar Muslim yang, tanpa sadar, membawa serta ajaran agama dalam setiap transaksi.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa Sultan pertama Perlak yang memeluk Islam adalah Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah sekitar tahun 840 M, meskipun data ini masih diperdebatkan di kalangan sejarawan. Yang lebih dapat dipastikan, pada abad ke-12 hingga ke-13 M, Perlak telah berkembang menjadi pusat pembelajaran Islam, khususnya mazhab Syafi’i. Sejarawan Taufik Abdullah (2010) mencatat bahwa ulama-ulama Perlak memiliki hubungan erat dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah, memperlihatkan bahwa Islam di Nusantara tumbuh melalui jalur intelektual, bukan sekadar simbol kekuasaan.

Menariknya, sejarah Perlak juga mencatat dinamika internal yang cukup “hangat”. Kerajaan ini pernah mengalami perbedaan pandangan antara kelompok Sunni dan Syiah pada fase awal Islamisasi. Namun alih-alih berujung konflik berkepanjangan, proses sejarah menunjukkan terjadinya asimilasi pemikiran yang relatif damai. Ini menegaskan bahwa sejak awal, Islam di Nusantara telah terbiasa hidup dalam perbedaan tafsir—sebuah sikap yang hari ini sering dirindukan, tapi dulu justru dipraktikkan tanpa seminar kebangsaan.

Dari Perlak, ajaran Islam menyebar ke wilayah Aceh lainnya dan memperkuat fondasi lahirnya Kesultanan Aceh Darussalam. Perlak berperan sebagai jembatan antara fase awal Islamisasi Samudera Pasai dan ekspansi Islam yang lebih luas di Sumatra dan Jawa. Dalam konteks sejarah Indonesia, Perlak mengajarkan bahwa pusat peradaban besar sering kali bermula dari pelabuhan kecil—asal dikelola dengan ilmu, toleransi, dan sedikit kesabaran sejarah.

TIM

 

=======-

Perlak: From a Small Port to a Center of the Shafi‘i School

Following the rise of Samudera Pasai as an early Islamic kingdom, historical records identify the Perlak Kingdom in East Aceh as a crucial region in the consolidation of Islam in the Indonesian archipelago. Perlak is believed to have encountered Islam as early as the ninth century CE, well before Pasai reached prominence, although its political structure developed later. Local sources such as Hikayat Raja-Raja Pasai describe Perlak as a strategic producer of perlak wood, a valuable material for shipbuilding, making it a frequent stop for Muslim traders who introduced Islamic teachings through daily interactions.

Historical accounts state that the first Muslim ruler of Perlak was Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah around 840 CE, although this date remains debated among historians. What is more firmly established is that by the twelfth and thirteenth centuries, Perlak had developed into a center of Islamic learning, particularly of the Shafi‘i school. Historian Taufik Abdullah (2010) notes that Perlak scholars maintained close intellectual ties with Middle Eastern Islamic centers, indicating that Islam in the archipelago expanded through scholarly networks rather than political dominance alone.

Notably, the history of Perlak also reflects early internal dynamics within Islamic communities. The kingdom experienced differing orientations between Sunni and Shi‘a groups during the initial phase of Islamization. However, rather than leading to prolonged conflict, historical processes suggest a relatively peaceful intellectual assimilation. This demonstrates that from its earliest stages, Islam in the archipelago was accustomed to diversity of interpretation, fostering a culture of dialogue rather than division.

From Perlak, Islamic teachings spread to other regions of Aceh and contributed significantly to the emergence of the Aceh Darussalam Sultanate. Perlak functioned as a bridge between the early Islamization phase represented by Samudera Pasai and the broader expansion of Islam across Sumatra and Java. In Indonesian history, Perlak illustrates how major centers of civilization often originate from modest ports—when nurtured by knowledge, tolerance, and historical patience.

THE TEAM