Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

Peran GM Hotel dalam Penyelesaian Konflik Pegawai dan Manajemen yang Mengarah pada Demonstrasi

Kajian Akademis

PERAN GM HOTEL DALAM PENYELESAIAN KONFLIK PEGAWAI DAN MANAJEMEN YANG MENGARAH PADA DEMONSTRASI

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami secara mendalam peran General Manager (GM) hotel dalam menangani konflik antara pegawai dan manajemen yang berpotensi mengarah pada demonstrasi. Pendekatan kualitatif dipilih karena konflik organisasi merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh persepsi, pengalaman, dan dinamika hubungan kerja yang tidak dapat dijelaskan secara kuantitatif semata. Menurut Creswell dan Poth (2018), metode kualitatif memungkinkan peneliti mengeksplorasi makna dan proses yang terjadi dalam konteks organisasi secara komprehensif. Dalam industri perhotelan, konflik sering berkembang secara bertahap dari ketidakpuasan laten hingga aksi kolektif apabila tidak dikelola secara efektif (Robbins & Judge, 2019).

Dalam kerangka metodologi studi kasus, GM hotel diposisikan sebagai aktor kunci yang memiliki kewenangan strategis dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan hubungan industrial. Yin (2018) menegaskan bahwa studi kasus relevan digunakan ketika penelitian berfokus pada fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata. Data penelitian umumnya diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi kebijakan internal hotel. Hasil kajian menunjukkan bahwa kegagalan GM dalam membangun komunikasi terbuka dan mekanisme penyelesaian keluhan yang adil dapat memperkuat persepsi ketidakadilan pegawai, yang menurut Colquitt et al. (2019) menjadi pemicu utama munculnya konflik terbuka dan aksi demonstrasi.

Analisis data kualitatif dalam penelitian ini menekankan pada strategi manajemen konflik yang diterapkan oleh GM hotel. Thomas dan Kilmann (2017) mengemukakan bahwa pendekatan kolaboratif dalam penyelesaian konflik lebih efektif dalam meredam eskalasi ketegangan dibandingkan pendekatan dominatif. GM yang berperan aktif sebagai mediator, melibatkan perwakilan pegawai, serta mengakomodasi kepentingan kedua belah pihak terbukti mampu menurunkan potensi konflik yang mengarah pada demonstrasi. Armstrong dan Taylor (2020) menambahkan bahwa konsistensi kebijakan dan transparansi prosedural menjadi indikator penting keberhasilan kepemimpinan dalam konteks hubungan kerja.

Berdasarkan temuan penelitian kualitatif tersebut, dapat disimpulkan bahwa peran GM hotel dalam penyelesaian konflik bersifat strategis dan menentukan stabilitas organisasi. GM yang menerapkan kepemimpinan transformasional dan berorientasi pada dialog mampu mengelola konflik sebagai bagian dari dinamika organisasi, bukan sebagai ancaman. Yukl (2020) menyatakan bahwa kepemimpinan yang responsif terhadap isu hubungan industrial dapat mencegah konflik berkembang menjadi aksi kolektif yang merugikan organisasi. Dengan demikian, efektivitas GM dalam menangani konflik internal menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan operasional dan reputasi hotel.

JS BUDI – dari bebagai sumber