OPERATOR ASING (02)
Sebuah kepedulian anak bangsa mewaspadai munculnya benih-benih kenikmatan imperialisme moderen: Kapan nasionalisme ditegakkan dlm supremasi bisnis pariwisata?
Fenomena ojek on-line, fintech dan rebel food tidak bisa dibendung lantaran adanya simbiosis mutualisme kuat. Demikian pula dengan melesat dan menguatnya operator hotel asing di negeri ini. Pakar hotelpun ada yang sangat welcome: silahkan ramaikan dunia perhotelan kita. Ada pula yang setengah hati welcoming-nya: boleh tapi dikontrol populasinya. Bahkan ada yang bergaris keras untuk menghentikannya atas nama proteksi kepentingan anak negeri dimasa depan.
Semua sah memiliki argumen kuat untuk mensupport opsinya. “Kenapa kita takut, justru ini akan menjadi sparing-partner dalam men-generate layanan prima.” Namun bagi saya, keberadaan operator asing yang tidak terkontrol akan menjadi triger utama munculnya ketidak-seimbangan sosio-ekonomi. Bila terjadi pembiaran populasi, pada satu titik nanti, anak negeri ini tak ubahnya punya property dan sumberdaya yang hebat, tapi butuh merek bagus. Persis seperti LONDO IRENG: orang Indonesia yang berseragam Kompeni dan maju perang menyiksa bangsanya sendiri. Ironis, tapi itulah sejarah. Dan selalu terulang dlm bentuk lain.
TIM










