Mengapa Indonesia Tertinggal dari Malaysia dalam Kedatangan Wisatawan Internasional? Perspektif Daya Saing Pariwisata ASEAN
Abstrak
Meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya yang sangat besar, Indonesia secara konsisten mencatat jumlah kedatangan wisatawan internasional yang lebih rendah dibandingkan Malaysia. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor struktural dan kebijakan yang mendasari kesenjangan tersebut dengan menggunakan kerangka daya saing pariwisata dan gravity model. Studi ini menggunakan data sekunder dari lembaga statistik nasional, UN Tourism, serta laporan industri penerbangan internasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa keunggulan Malaysia terutama didorong oleh kedekatan geografis pasar utama, konektivitas udara yang lebih unggul, kebijakan kemudahan visa, serta struktur destinasi yang mendukung perjalanan multi-destinasi. Studi ini juga mengajukan rekomendasi kebijakan strategis untuk meningkatkan kinerja pariwisata inbound Indonesia agar mampu melampaui Malaysia.
Kata kunci: Pariwisata internasional, ASEAN, daya saing destinasi, Indonesia, Malaysia, gravity model
- Pendahuluan
Pariwisata merupakan sektor strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan perolehan devisa di negara-negara ASEAN. Sebelum pandemi COVID-19, Malaysia dan Thailand secara konsisten mencatat jumlah kunjungan wisatawan internasional yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia, meskipun Indonesia memiliki wilayah geografis dan potensi pariwisata yang jauh lebih besar (UN Tourism, 2019). Tren pemulihan pascapandemi menunjukkan bahwa kesenjangan ini masih berlanjut hingga tahun 2025, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai daya saing relatif Indonesia dalam menarik wisatawan asing.
Berdasarkan data resmi, Malaysia mencatat sekitar 28,24 juta kunjungan wisatawan internasional pada periode Januari–Agustus 2025, sementara Indonesia mencatat 13,98 juta kunjungan pada periode Januari–November 2025 (Tourism Malaysia, 2025; BPS, 2025). Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal secara signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan internasional.
- Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan landasan gravity model dalam permintaan pariwisata, yang menyatakan bahwa arus wisatawan dipengaruhi secara positif oleh ukuran pasar dan secara negatif oleh jarak, biaya, serta hambatan perjalanan (Song & Li, 2008). Data yang digunakan merupakan data sekunder yang bersumber dari publikasi statistik resmi, laporan industri penerbangan, dan basis data pariwisata internasional
Analisis difokuskan pada empat dimensi utama:
- Kedekatan geografis dan mobilitas wisata jarak dekat
- Konektivitas penerbangan dan infrastruktur gerbang masuk
- Kebijakan visa dan efisiensi prosedur perbatasan
- Struktur destinasi dan diversifikasi produk pariwisata
- Hasil dan Pembahasan
3.1 Keunggulan Kedekatan Geografis dan Wisata Jarak Dekat
Malaysia memperoleh keuntungan signifikan dari wisata jarak dekat dan lintas batas, khususnya dari Singapura. Pada tahun 2025, wisatawan asal Singapura menyumbang lebih dari 10 juta kunjungan ke Malaysia, didorong oleh kemudahan akses darat dan udara serta frekuensi kunjungan yang tinggi (Tourism Malaysia, 2025). Berdasarkan teori gravity model, kedekatan geografis menurunkan biaya perjalanan dan meningkatkan intensitas kunjungan, sehingga mendorong volume kedatangan yang besar meskipun lama tinggal relatif singkat (Song & Li, 2008).
Sebaliknya, Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada transportasi udara untuk kunjungan internasional, sehingga meningkatkan biaya perjalanan dan membatasi perjalanan singkat yang bersifat spontan atau berulang.
3.2 Konektivitas Udara dan Dominasi Hub
Sistem penerbangan Malaysia yang terpusat pada Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL) berfungsi sebagai hub utama ASEAN dengan kepadatan rute dan frekuensi penerbangan yang tinggi. Laporan International Air Transport Association (IATA, 2025) menunjukkan bahwa Malaysia mampu memulihkan kapasitas kursi internasional lebih cepat dibandingkan Indonesia, sehingga meningkatkan aksesibilitas destinasi.
Indonesia memiliki beberapa pintu masuk internasional utama, seperti Jakarta, Bali, Medan, dan Surabaya, namun ketiadaan hub dominan menyebabkan efisiensi jaringan lebih rendah dan meningkatkan biaya koordinasi antarwilayah.
3.3 Kebijakan Visa dan Hambatan Administratif
Literatur pariwisata internasional menunjukkan bahwa kebijakan visa merupakan faktor penting dalam menentukan keputusan perjalanan wisatawan (UN Tourism, 2024). Malaysia menerapkan kebijakan kemudahan masuk yang lebih konsisten dan efektif, sehingga menurunkan hambatan administratif bagi wisatawan asing.
Indonesia telah memperkenalkan visa elektronik saat kedatangan (e-VOA) dan deklarasi kepabeanan digital, namun dalam praktiknya masih terdapat tantangan implementasi yang berpotensi menurunkan tingkat realisasi kunjungan wisatawan.
3.4 Struktur Destinasi dan Perjalanan Multi-Destinasi
Malaysia memiliki sistem pariwisata yang mendukung perjalanan multi-destinasi, seperti Kuala Lumpur–Penang–Melaka–Johor, yang terhubung melalui jaringan transportasi domestik yang efisien. Struktur ini mendorong lama tinggal yang lebih panjang dan kunjungan berulang dalam satu perjalanan.
Sebaliknya, pariwisata Indonesia masih sangat terpusat pada Bali, sementara integrasi destinasi sekunder ke dalam satu rangkaian perjalanan nasional masih terbatas.
- Implikasi Kebijakan: Strategi Agar Indonesia Melampaui Malaysia
Untuk mengungguli Malaysia dalam jumlah kunjungan wisatawan internasional, Indonesia perlu menerapkan strategi terpadu sebagai berikut:
- Memperkuat pasar jarak dekat (short-haul) melalui peningkatan frekuensi penerbangan regional dan pembentukan koridor wisata ASEAN.
- Meningkatkan konektivitas udara dengan mengembangkan satu atau dua hub internasional utama berkapasitas tinggi.
- Menurunkan hambatan masuk melalui integrasi penuh sistem visa digital dan prosedur kedatangan yang sederhana serta konsisten.
- Mengembangkan jaringan destinasi multi-titik dengan dukungan transportasi antarpulau yang andal dan standar layanan yang seragam.
- Menyeimbangkan kuantitas dan kualitas wisatawan dengan memperkuat segmen MICE, event internasional, dan pariwisata bernilai tinggi.
- Kesimpulan
Ketertinggalan Indonesia dari Malaysia dalam jumlah kedatangan wisatawan internasional bukan disebabkan oleh rendahnya daya tarik destinasi, melainkan oleh faktor struktural seperti konektivitas, kedekatan pasar utama, dan efisiensi kebijakan. Dengan reformasi terarah di bidang transportasi, visa, dan pengembangan destinasi terpadu, Indonesia memiliki potensi besar untuk menutup bahkan membalikkan kesenjangan tersebut dalam beberapa tahun ke depan.
======—
Why Does Indonesia Lag Behind Malaysia in International Tourist Arrivals? An ASEAN Tourism Competitiveness Perspective
Abstract
Despite possessing abundant natural and cultural resources, Indonesia has consistently recorded lower international tourist arrivals than Malaysia. This study aims to explain the structural and policy-related factors underlying this gap by employing a tourism competitiveness framework and the gravity model of tourism demand. The study relies on secondary data obtained from national statistical agencies, UN Tourism, and international aviation industry reports. The findings indicate that Malaysia’s advantage is primarily driven by proximity to major source markets, superior air connectivity, more effective visa facilitation policies, and a destination structure that supports multi-destination travel. This study further proposes strategic policy recommendations to enhance Indonesia’s inbound tourism performance with the objective of surpassing Malaysia.
Keywords: International tourism, ASEAN, destination competitiveness, Indonesia, Malaysia, gravity model
- Introduction
Tourism represents a strategic sector for economic growth, employment creation, and foreign exchange earnings among ASEAN countries. Prior to the COVID-19 pandemic, Malaysia and Thailand consistently recorded higher international tourist arrivals than Indonesia, despite Indonesia’s significantly larger geographical area and tourism potential (UN Tourism, 2019). Post-pandemic recovery trends indicate that this gap has persisted through 2025, raising important questions regarding Indonesia’s relative competitiveness in attracting foreign tourists.
Official data show that Malaysia recorded approximately 28.24 million international tourist arrivals during January–August 2025, while Indonesia recorded 13.98 million arrivals during January–November 2025 (Tourism Malaysia, 2025; BPS, 2025). These figures underscore Indonesia’s continued lag in international tourist arrivals.
- Methodology
This study adopts a descriptive-analytical approach grounded in the gravity model of tourism demand, which posits that tourist flows are positively influenced by market size and negatively affected by distance, cost, and travel barriers (Song & Li, 2008). The analysis utilizes secondary data from official statistical publications, aviation industry reports, and international tourism databases.
The analysis focuses on four principal dimensions:
- Geographic proximity and short-haul tourism mobility
- Air connectivity and gateway infrastructure
- Visa policy and border procedure efficiency
- Destination structure and tourism product diversification
- Results and Discussion
3.1 Geographic Proximity and Short-Haul Tourism Advantage
Malaysia benefits significantly from short-haul and cross-border tourism, particularly from Singapore. In 2025, visitors from Singapore accounted for over 10 million arrivals to Malaysia, facilitated by easy land and air access and high visit frequency (Tourism Malaysia, 2025). According to the gravity model, geographic proximity reduces travel costs and increases visitation intensity, resulting in high arrival volumes despite relatively short lengths of stay (Song & Li, 2008).
In contrast, Indonesia’s archipelagic geography makes international tourism heavily dependent on air transport, increasing travel costs and limiting spontaneous or repeat short-haul visits.
3.2 Air Connectivity and Hub Dominance
Malaysia’s aviation system is centralized around Kuala Lumpur International Airport (KUL), which functions as a major ASEAN hub with dense route networks and high flight frequencies. The International Air Transport Association (IATA, 2025) reports that Malaysia restored international seat capacity more rapidly than Indonesia, thereby improving destination accessibility.
Indonesia operates several international gateways—Jakarta, Bali, Medan, and Surabaya—yet the absence of a dominant hub results in lower network efficiency and higher inter-regional coordination costs.
3.3 Visa Policy and Administrative Frictions
Tourism literature consistently identifies visa policy as a critical determinant of travel decisions (UN Tourism, 2024). Malaysia has implemented more consistent and effective entry facilitation policies, thereby reducing administrative barriers for international visitors.
Indonesia has introduced electronic visas on arrival (e-VOA) and digital customs declarations; however, implementation challenges persist, potentially reducing actual visitation conversion rates.
3.4 Destination Structure and Multi-Destination Travel
Malaysia’s tourism system supports multi-destination itineraries—such as Kuala Lumpur–Penang–Melaka–Johor—enabled by efficient domestic transportation networks. This structure encourages longer stays and multiple visits within a single trip.
Conversely, Indonesia’s tourism remains highly concentrated in Bali, while the integration of secondary destinations into cohesive national travel circuits remains limited.
- Policy Implications: Strategies for Indonesia to Surpass Malaysia
To outperform Malaysia in international tourist arrivals, Indonesia should adopt an integrated strategy encompassing the following measures:
- Strengthening short-haul markets through increased regional flight frequencies and the establishment of ASEAN tourism corridors.
- Enhancing air connectivity by developing one or two high-capacity international hub airports.
- Reducing entry barriers through full integration of digital visa systems and simplified, consistent arrival procedures.
- Developing multi-node destination networks supported by reliable inter-island transport and standardized service quality.
- Balancing quantity and quality by strengthening the MICE segment, international events, and high-value tourism offerings.
- Conclusion
Indonesia’s lag behind Malaysia in international tourist arrivals is not attributable to insufficient destination appeal, but rather to structural factors such as connectivity, proximity to major markets, and policy efficiency. Through targeted reforms in transportation, visa facilitation, and integrated destination development, Indonesia has significant potential to close—and potentially reverse—this gap in the coming years.
References
- Badan Pusat Statistik. (2025). International Tourist Arrival Statistics to Indonesia. Jakarta: BPS.
- International Air Transport Association. (2025). World Air Transport Statistics. Montreal: IATA.
- Song, H., & Li, G. (2008). Tourism demand modelling and forecasting: A review of recent research. Tourism Management, 29(2), 203–220.
- Tourism Malaysia. (2025). Tourism Performance Report 2025. Kuala Lumpur.
- UN Tourism. (2024). World Tourism Barometer. Madrid: UN Tourism.










