Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

Menegosiasikan Ulang Hari Jadi: Perspektif Sosial, Historis, dan Strategi Kultural atas Perubahan Sejarah Kabupaten Majalengka

KAJIAN AKADEMIS

Menegosiasikan Ulang Hari Jadi: Perspektif Sosial, Historis, dan Strategi Kultural atas Perubahan Sejarah Kabupaten Majalengka

Oleh: Endi Rochaendi

Interpretasi sosial atas perubahan ini juga memperlihatkan adanya pergeseran cara pandang terhadap kolonialisme. Penetapan 11 Februari 1840 merujuk Staatsblad menandakan pengakuan bahwa fase kolonial menjadi titik awal eksistensi administratif Majalengka sebagai entitas pemerintahan formal. Sebagian masyarakat membaca hal ini secara pragmatis sebagai fakta sejarah yang tidak dapat dihindari, sementara sebagian lain mengkhawatirkan dominasi narasi kolonial yang seolah-olah menempatkan masa pra-kolonial sebagai periode “tak resmi”. Ketegangan interpretatif tersebut menunjukkan bahwa perubahan hari jadi bukan hanya soal tanggal, tetapi juga soal posisi kolonialisme dalam ingatan sejarah lokal.

Strategi yang dijalankan pemerintah daerah menghadapi dinamika ini cenderung bergerak pada dua ranah utama: ranah regulatif dan ranah kultural. Ranah regulatif diwujudkan melalui rencana penetapan Peraturan Daerah sebagai payung hukum resmi. Regulasi tersebut berfungsi memberikan kepastian administratif sekaligus legitimasi formal bagi perubahan hari jadi. Bagi aparatur pemerintahan, langkah ini penting untuk menjamin konsistensi kebijakan, penyelenggaraan peringatan resmi, serta pencantuman hari jadi pada dokumen negara. Strategi ini menunjukkan orientasi pada tata kelola modern yang menempatkan hukum sebagai fondasi utama.

Ranah kultural menuntut pendekatan yang lebih halus dan persuasif. Sosialisasi kepada masyarakat menjadi strategi kunci agar perubahan tidak dipersepsi sebagai pemutusan sejarah, melainkan sebagai penataan ulang periodisasi. Diskursus publik, seminar sejarah, dialog bersama budayawan, serta publikasi ilmiah populer menjadi sarana penting untuk menjelaskan bahwa sejarah Majalengka tidak dimulai pada 1840, melainkan memperoleh pengakuan administratif resmi pada tahun tersebut. Strategi komunikasi semacam ini berupaya meredam resistensi sekaligus membangun pemahaman kolektif yang lebih dewasa terhadap kompleksitas sejarah.