MARKETING DALAM KEGELAPAN (2)
Lantas, apa yang harus dilakukan Owner dan Manajemen dalam menghadapi suasana keterpurukan hotel?
Referensi Kapitalis Barat mengajarkan: dapatkan Revenue setinggi mungkin, tekan Cost serendah mungkin. Lebih ekstrim lagi konsep Yahudi: Don`t put your money on your business. Maknanya, kalau bisnis, gunakan uang / modal dari orang lain. Cukup gunakan otak!
Ada benarnya memang, namun dalam suasana pandemi seperti ini, bagaimana mencari Revenue setinggi mungkin? dan bagaimana membuat narasi agar orang lain berkenan memberikan modal?
Pada fatsal terdahulu, disaat Indonesia dilanda pandemi tahun lalu, saya sampaikan konsep simpel namun ampuh khasiatnya jika dilakukan oleh para Hotel Owner dan jajaran Manajemen: pemetaan niatan utama dalam bisnis. Cara yang ditempuh adalah bisnis dengan pendekatan religi. Apapun agama Anda. Pastikan dalam pembuatan budget: berapa sedekah yang akan hotel salurkan melalui CSR (Corporate Social Responsibility)?
Konsep 2,5% dari NOP (Nett Operating Profit) sebagaimana diajarkan dalam Islam?
10% seperti yang dilakukan teman-teman Nasrani?
11% oleh penganut Kong Hu Cu?
Atau yang paling ekstrim: 50% seperti yang dilakukan orang Yahudi?
Artinya, minimalnya, niatkan bersedekah terlebih dahulu agar pergerakan operasional Anda bisa mencapai kejayaan. Lantas, realisasikan secara periodik. Bukan sebaliknya, berpikir jaya dulu, baru bersedekah.










