Mancanegara: Wat Phra Kaew (Temple of the Emerald Buddha), Grand Palace, Bangkok, Thailand
Aku kembali ke tempat ini dengan langkah yang lebih pelan.
Di halaman suci Istana Bangkok, di antara menara emas dan atap yang menjulang ke langit, waktu seakan berhenti bernapas. Angin bergerak lembut, seolah tahu bahwa aku datang bukan sebagai pelancong, melainkan sebagai seseorang yang sedang mengingat.
Tahun 1989, di tempat yang sama ini, aku berdiri bersama sahabatku, Jannet Patikawa. Kami masih mahasiswa, peserta SSEAYP, membawa mimpi-mimpi muda yang ringan dan tawa yang belum mengenal perpisahan. Kami berfoto bersama, tanpa sadar bahwa waktu sedang diam-diam memilih satu bingkai untuk menjadi yang terakhir. Kamera menangkap senyum kami, sementara takdir menutup halaman tanpa memberi tanda.
Dua tahun silam, Jannet berpulang.
Dan sejak itu, foto itu berubah makna—bukan lagi kenangan biasa, melainkan penanda kehadiran terakhir. Di antara dinding suci dan ukiran emas ini, aku merasa ia masih berdiri di sampingku, tenang, seolah berkata bahwa persahabatan tidak pernah benar-benar berakhir, ia hanya berpindah tempat: dari dunia yang terlihat ke ruang sunyi dalam ingatan.
Aku menunduk, diam, dan berdoa untuk IPY Macgyver.
Di tempat yang sakral ini, aku belajar bahwa kehilangan bukan tentang kepergian, melainkan tentang semangat kebersamaan yang tetap tinggal. Dan selama kenangan itu hidup—selama langkahku kembali ke sini—Jannet tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berjalan sedikit lebih dulu, menunggu di sisi keabadian.
JSB
=====—
Mancanegara: Wat Phra Kaew (Temple of the Emerald Buddha), Grand Palace, Bangkok, Thailand
I return to this place with slower steps.
Within the sacred grounds of the Grand Palace in Bangkok—among golden spires and roofs reaching toward the sky—time seems to pause its breath. The wind moves gently, as if it knows I have come not as a traveler, but as one who remembers.
In 1989, in this very place, I stood beside my dear friend, Jannet Patikawa. We were students then, participants of SSEAYP, carrying youthful dreams that felt light, and laughter that had yet to learn the meaning of farewell. We took a photograph together, unaware that time was quietly choosing a single frame to become the last. The camera captured our smiles, while destiny closed the page without warning.
Two years ago, Jannet departed this world.
Since then, that photograph has changed its meaning—it is no longer a simple memory, but a marker of final presence. Among these sacred walls and golden carvings, I feel her still standing beside me, calm and gentle, as if whispering that friendship never truly ends; it merely changes its dwelling—from the visible world to the silent chambers of memory.
I bow my head, fall silent, and pray for IPY Macgyver.
In this sacred place, I learn that loss is not about departure, but about togetherness that continues to remain. And as long as memory lives—as long as my steps return here—Jannet has never truly gone. He has only walked a little ahead, waiting on the threshold of eternity.
JSB










