Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

Mahasiswa Pariwisata Unhas Eksplorasi Bugis Waterpark Adventure x Pigitrip: Mengkaji Integrasi Wisata Air Modern dan Budaya Lokal

Program Pendidikan

Mahasiswa Pariwisata Unhas Eksplorasi Bugis Waterpark Adventure x Pigitrip: Mengkaji Integrasi Wisata Air Modern dan Budaya Lokal

Oleh Jessi Clara Muskitta

 

Makassar– Sebelas mahasiswa Program Studi S1 Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin melaksanakan kegiatan observasi lapangan di Bugis Waterpark Adventure sebagai bagian dari tugas Mata Kuliah Pariwisata Digital yang diampu oleh Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S.S., M.Hum. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PIGITRIP sebagai platform digital tourism yang mendukung pembelajaran berbasis praktik dan pengalaman langsung di destinasi wisata.

Tim mahasiswa yang terlibat dalam penugasan ini terdiri atas Jessi Clara Muskitta, Salsabila Iman Ismail, Zaskia Aprilia, Shinazkia Avrilia Djawali, Radina Sinja Putri, Nur Azisah, Firgy Shoffiyah Poerworo, Nayla Amalia Ramadhani, Afkhar Fakhriy Wardana, Arradhi Hammurabi Ahsan, dan Rezky Pangestu. Melalui observasi lapangan, mahasiswa melakukan kajian terhadap aspek daya tarik wisata, fasilitas, pelayanan, aksesibilitas, serta strategi pengembangan destinasi yang diterapkan oleh pengelola.

Bugis Waterpark Adventure yang berlokasi di kawasan perumahan Bukit Baruga, Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata air terbesar dan paling populer di Sulawesi Selatan. Destinasi ini memiliki luas sekitar tujuh hektar dan menawarkan konsep yang berbeda dibandingkan taman rekreasi air lainnya di Indonesia, yakni memadukan wahana air modern dengan unsur budaya Bugis yang kuat.

Sejak memasuki kawasan wisata, pengunjung langsung disambut dengan replika rumah adat Saoraja yang menjadi simbol kebesaran budaya Bugis. Tidak hanya itu, berbagai zona dan wahana menggunakan kombinasi penamaan dalam bahasa Bugis dan bahasa Inggris, sehingga memberikan pengalaman wisata yang tidak hanya menghibur tetapi juga edukatif. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan ke dalam industri pariwisata modern tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat.

Hasil observasi mahasiswa menunjukkan bahwa Bugis Waterpark Adventure menawarkan beragam wahana yang mampu menjangkau berbagai segmen pasar wisatawan. Untuk pencinta tantangan dan adrenalin, tersedia Phinisi Slide (Mattulili), sebuah wahana seluncur setinggi sekitar 20 meter yang mengadopsi bentuk kapal Phinisi sebagai ikon maritim Sulawesi Selatan. Selain itu terdapat Black Hole (Mapettang), wahana seluncur tertutup dengan suasana gelap yang menghadirkan sensasi berbeda bagi pengunjung. Wahana Pipa Wae (Aquatube) juga menjadi favorit karena menawarkan pengalaman meluncur melalui lorong tertutup yang panjang dan berkelok.

Sementara itu, wisatawan keluarga dapat menikmati Wae Massolo atau Lazy River yang mengajak pengunjung menyusuri kolam arus dengan suasana yang teduh dan asri. Bagi anak-anak tersedia Kollang Ana’-Ana’ atau Kids Pool yang dilengkapi berbagai permainan air, seluncuran mini, dan ember tumpah raksasa yang aman digunakan oleh pengunjung usia dini.

Dari aspek aksesibilitas dan biaya kunjungan, mahasiswa mencatat bahwa harga tiket masuk bervariasi sesuai hari kunjungan. Pada hari kerja, tarif berkisar antara Rp75.000 hingga Rp150.000 per orang, sedangkan pada akhir pekan dan hari libur nasional berkisar antara Rp100.000 hingga Rp200.000 per orang. Tiket tersebut umumnya telah mencakup akses ke berbagai wahana utama serta penggunaan ban pelampung yang tersedia di area kolam.

Selain wahana, Bugis Waterpark juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang yang mendukung kenyamanan wisatawan, seperti area parkir luas, toilet yang bersih, ruang bilas dan ganti pakaian, mushola, loker penyimpanan barang, hingga area kuliner Onrong Manre yang menyajikan beragam makanan dan minuman. Dari sisi keamanan, pengelola menempatkan petugas penyelamat atau lifeguard di berbagai titik strategis serta menerapkan standar penggunaan pakaian renang berbahan khusus guna menjaga kualitas air kolam.

Dalam kajian mereka, mahasiswa juga mengidentifikasi sejumlah kelebihan dan tantangan yang dimiliki destinasi ini. Kelebihan utama terletak pada konsep budaya yang kuat, lingkungan yang hijau dan teduh, serta variasi wahana yang lengkap untuk berbagai kelompok usia. Di sisi lain, beberapa pengunjung menilai kebijakan larangan membawa makanan dan minuman dari luar sebagai salah satu keterbatasan karena menambah pengeluaran selama berwisata. Selain itu, beberapa fasilitas seperti gazebo dan loker dikenakan biaya tambahan yang dianggap relatif tinggi oleh sebagian wisatawan.

Menurut hasil analisis kelompok, Bugis Waterpark Adventure dapat dikategorikan sebagai destinasi yang telah berhasil memasuki tahap operasional yang matang. Infrastruktur wisata, pelayanan, dan sistem pengelolaan telah berjalan dengan baik serta didukung oleh loyalitas pengunjung yang tinggi. Namun demikian, pengelola tetap melakukan pengembangan berkelanjutan melalui pemeliharaan wahana, digitalisasi layanan pemesanan tiket, promosi berbasis platform daring, serta penyelenggaraan berbagai program tematik yang mengikuti tren industri pariwisata.

Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S.S., M.Hum., selaku dosen pengampu Mata Kuliah Pariwisata Digital, menegaskan bahwa kegiatan observasi seperti ini penting untuk membangun kemampuan mahasiswa dalam melakukan analisis destinasi wisata secara komprehensif. Melalui pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa tidak hanya memahami teori pariwisata digital, tetapi juga mampu melihat bagaimana konsep budaya, manajemen destinasi, pemasaran digital, dan pengalaman wisatawan diterapkan dalam praktik industri.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi mahasiswa Pariwisata Universitas Hasanuddin dalam bidang riset destinasi, pengembangan produk wisata, dan digital tourism, sekaligus memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan destinasi wisata berbasis budaya lokal di Sulawesi Selatan.

 

========-

Hasanuddin University Tourism Students Explore Bugis Waterpark Adventure x Pigitrip: Examining the Integration of Modern Water Tourism and Local Culture

Makassar, Indonesia– Eleven students from the Undergraduate Tourism Study Program of the Faculty of Cultural Sciences, Hasanuddin University, recently conducted a field observation at Bugis Waterpark Adventure as part of their Digital Tourism course assignment. The course is supervised by Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S.S., M.Hum., and the activity was carried out in collaboration with PIGITRIP, a digital tourism platform that supports experiential and field-based learning.

The student team consisted of Jessi Clara Muskitta, Salsabila Iman Ismail, Zaskia Aprilia, Shinazkia Avrilia Djawali, Radina Sinja Putri, Nur Azisah, Firgy Shoffiyah Poerworo, Nayla Amalia Ramadhani, Afkhar Fakhriy Wardana, Arradhi Hammurabi Ahsan, and Rezky Pangestu. Through this field study, the students examined various aspects of the destination, including tourist attractions, facilities, accessibility, visitor services, and destination development strategies.

Located within the Bukit Baruga residential area in Antang, Manggala District, Makassar City, Bugis Waterpark Adventure has established itself as one of the largest and most popular water tourism destinations in South Sulawesi. Covering approximately seven hectares, the attraction offers a unique concept that combines modern water recreation with the rich cultural heritage of the Bugis people.

Upon entering the destination, visitors are welcomed by a replica of the traditional Saoraja house, symbolizing the grandeur of Bugis culture. Furthermore, many of the attraction zones and rides are named using a combination of Bugis and English terms, creating a distinctive cultural atmosphere. This approach demonstrates how local wisdom can be successfully integrated into modern tourism products while preserving cultural identity.

The students’ observations revealed that Bugis Waterpark Adventure offers a wide range of attractions catering to diverse visitor segments. For thrill-seekers, the park features exciting rides such as the Phinisi Slide (Mattulili), a towering water slide inspired by the iconic Phinisi sailing vessel of South Sulawesi. Other popular attractions include the Black Hole (Mapettang), an enclosed dark tunnel slide that provides an adrenaline-pumping experience, and the Pipa Wae (Aquatube), known for its long and winding enclosed water slide.

Families and leisure visitors can enjoy Wae Massolo (Lazy River), a relaxing waterway surrounded by lush greenery and shaded landscapes. Children can spend time at Kollang Ana’-Ana’ (Kids Pool), which offers mini slides, interactive water features, and a giant tipping bucket designed specifically for younger visitors.

Regarding accessibility and pricing, the students noted that entrance fees vary depending on the day of visit. Weekday admission generally ranges from IDR 75,000 to IDR 150,000 per person, while weekend and public holiday tickets range between IDR 100,000 and IDR 200,000. Admission fees typically include access to most major attractions and complimentary use of inflatable tubes available throughout the park.

In addition to its rides and attractions, Bugis Waterpark Adventure provides comprehensive supporting facilities, including spacious parking areas, clean restrooms, changing rooms, prayer facilities, storage lockers, and the Onrong Manre Food Court, which offers a variety of local dishes and refreshments. Safety is also a priority, with lifeguards stationed at strategic points and regulations requiring visitors to wear appropriate swimwear made of suitable materials to maintain water quality and hygiene.

The student researchers also identified several strengths and challenges associated with the destination. Among its major strengths are its strong cultural identity, green and environmentally friendly atmosphere, and diverse range of attractions suitable for all age groups. However, some visitors perceive the policy prohibiting outside food and beverages as a limitation, as it increases overall travel expenses. Additional rental fees for facilities such as gazebos and lockers were also considered relatively expensive by some guests.

Based on their analysis, the students concluded that Bugis Waterpark Adventure has successfully reached a mature operational stage. Its tourism infrastructure, management system, and visitor services are well established and supported by a loyal customer base. Nevertheless, the destination continues to evolve through regular maintenance, digital ticketing innovations, online promotional campaigns, and the introduction of new thematic programs designed to remain competitive within the rapidly changing tourism industry.

According to Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S.S., M.Hum., the Digital Tourism course encourages students to develop practical skills in destination analysis and tourism research. Field observations such as this allow students to bridge theoretical concepts with real-world tourism operations, gaining valuable insights into destination management, cultural tourism, visitor experiences, and digital tourism practices.

This activity is expected to strengthen the competencies of Hasanuddin University Tourism students in destination research, tourism product development, and digital tourism. Moreover, it contributes valuable perspectives on the sustainable development of cultural-based tourism destinations in South Sulawesi and Indonesia as a whole.