Lappa Laona, Barru X PIGITRIP
Praktik Lapangan Pariwisata Digital: Menjelajah Negeri di Atas Awan Sulawesi Selatan
Oleh Samuel Christyonda Mangeke
Mahasiswa S1 Pariwisata Universitas Hasanuddin menghadirkan pengalaman praktik lapangan berbasis digital tourism melalui kegiatan “Lappa Laona, Barru X PIGITRIP”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Pariwisata Digital yang diampu oleh Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S.S., M.Hum. dengan konsep observasi destinasi, digital storytelling, serta eksplorasi potensi wisata alam berbasis media digital.
Penugasan praktik lapangan ini dikerjakan secara berkelompok oleh 12 mahasiswa, yaitu Bernov Batu Isi Siranda, Clarissa Divani, Fidelia Virginia Rumlaklak, Kelcy Martha Nini Toisuta, Leo Magnus Argabenta Nugraha Tandiayuk, Linda Siswati, Maria Virgia Brisa Fernandez, Nur Shuci Ramadhani, Nur Ulfa Khairiyah Hasal, Revini Lilian Manan, Samuel Christyonda Mangeke, dan Saskya Aulya Safitri.
Di tengah hamparan perbukitan hijau Kabupaten Barru, terdapat sebuah destinasi wisata alam yang mulai menarik perhatian wisatawan lokal hingga luar daerah, yaitu Lappa Laona. Destinasi ini berada di Dusun Waruwue, Desa Harapan, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru. Dari Kota Makassar, perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar empat jam dengan jarak tempuh kurang lebih 140 kilometer. Meski perjalanan cukup panjang, rasa lelah wisatawan seakan terbayarkan ketika tiba di kawasan wisata yang berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut tersebut.
Lappa Laona dikenal sebagai “Negeri di Atas Awan” karena menyajikan panorama alam berupa perbukitan hijau, udara sejuk, hamparan savana, serta pemandangan sunrise dan sunset yang memukau. Keindahan alamnya menjadikan tempat ini sebagai salah satu hidden gem di Sulawesi Selatan yang cocok untuk melepas penat dari hiruk pikuk perkotaan. Selain menikmati panorama alam, wisatawan juga dapat melakukan berbagai aktivitas menarik seperti camping, berburu foto estetik, hingga bermalam di villa yang tersedia di kawasan wisata dengan tarif sekitar Rp180.000 per malam.
Dari sisi biaya kunjungan, tiket masuk ke kawasan wisata ini tergolong cukup terjangkau. Pengunjung hanya dikenakan tarif Rp10.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp20.000 untuk kendaraan roda empat. Harga tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi kalangan mahasiswa dan wisatawan muda yang ingin menikmati wisata alam dengan biaya ekonomis.
Berdasarkan hasil observasi lapangan yang dilakukan bersama PIGITRIP, Lappa Laona memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata alam dan digital tourism. PIGITRIP sendiri merupakan platform digital tourism yang berperan dalam promosi destinasi wisata melalui media digital serta membantu wisatawan memperoleh informasi dan layanan perjalanan secara online. Kehadiran platform seperti PIGITRIP menjadi salah satu langkah penting dalam memperkenalkan potensi wisata daerah kepada masyarakat luas melalui pendekatan digital yang lebih modern.
Namun, di balik pesona alam yang dimiliki, terdapat beberapa permasalahan fasilitas yang perlu menjadi perhatian serius pengelola maupun pemerintah daerah. Saat observasi dilakukan, ditemukan bahwa dari empat bilik toilet yang tersedia, hanya satu bilik yang dapat digunakan dengan baik. Kondisi musholla juga terlihat memprihatinkan dan nyaris runtuh sehingga tidak layak digunakan wisatawan untuk beribadah. Selain itu, penerangan di kawasan wisata masih sangat minim dan hanya tersedia di sekitar area kios. Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kenyamanan serta keamanan pengunjung, khususnya wisatawan yang memilih camping atau menginap hingga malam hari.
Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan destinasi wisata tidak hanya bergantung pada keindahan alam semata, tetapi juga memerlukan dukungan fasilitas yang memadai, aksesibilitas yang baik, serta pengelolaan yang berkelanjutan. Dalam ilmu pariwisata, kenyamanan wisatawan menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang positif dan mendorong wisatawan untuk kembali berkunjung.
Melalui kegiatan observasi ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman perjalanan wisata, tetapi juga memahami secara langsung bagaimana potensi dan tantangan pengembangan destinasi wisata di daerah. Lappa Laona memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi destinasi unggulan Kabupaten Barru apabila didukung dengan pembenahan fasilitas, perhatian pemerintah, serta kolaborasi antara pengelola, masyarakat lokal, dan platform digital tourism seperti PIGITRIP.
“Pariwisata hari ini bukan hanya soal destinasi, tetapi bagaimana sebuah tempat mampu hadir di ruang digital dan membangun pengalaman wisata yang menarik bagi publik,” ungkap Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S.S., M.Hum. dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan “Lappa Laona, Barru X PIGITRIP” menjadi bukti bahwa praktik lapangan tidak hanya menghadirkan pengalaman wisata, tetapi juga menjadi media pembelajaran kreatif bagi mahasiswa dalam memahami masa depan industri pariwisata berbasis digital, kolaborasi, dan inovasi media. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Lappa Laona tetap menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman wisata alam yang unik, tenang, dan berkesan. Keindahan savana hijau di atas awan menjadi bukti bahwa Sulawesi Selatan memiliki banyak potensi wisata alam yang layak untuk terus dikembangkan dan dijaga keberlanjutannya.
=======-
Lappa Laona, Barru X PIGITRIP
Digital Tourism Field Practice: Exploring the “Land Above the Clouds” of South Sulawesi
by Dirk Sandarupa
Students of the Undergraduate Tourism Study Program at Hasanuddin University carried out a digital tourism-based field practice activity through the program entitled “Lappa Laona, Barru X PIGITRIP.” This activity is part of the Digital Tourism course taught by Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S.S., M.Hum., focusing on destination observation, digital storytelling, and the exploration of tourism potential through modern digital media approaches.
This field assignment was completed collaboratively by 12 students: Bernov Batu Isi Siranda, Clarissa Divani, Fidelia Virginia Rumlaklak, Kelcy Martha Nini Toisuta, Leo Magnus Argabenta Nugraha Tandiayuk, Linda Siswati, Maria Virgia Brisa Fernandez, Nur Shuci Ramadhani, Nur Ulfa Khairiyah Hasal, Revini Lilian Manan, Samuel Christyonda Mangeke, and Saskya Aulya Safitri.
Amid the vast green hills of Barru Regency lies a natural tourism destination that has begun attracting both local and out-of-town visitors: Lappa Laona. The destination is located in Waruwue Hamlet, Harapan Village, Tanete Riaja District, Barru Regency. From Makassar City, the journey to the site takes approximately four hours, covering a distance of around 140 kilometers. Although the trip is quite long, visitors’ fatigue is instantly rewarded upon arriving at this tourist destination situated approximately 1,000 meters above sea level.
Lappa Laona is widely known as the “Land Above the Clouds” because it offers breathtaking natural scenery, including green hills, cool fresh air, vast savannas, and stunning sunrise and sunset views. Its natural beauty makes it one of South Sulawesi’s hidden gems, perfect for escaping the hustle and bustle of urban life. Besides enjoying the scenery, tourists can also engage in various activities such as camping, aesthetic photography, and staying overnight in villas available within the tourism area for around IDR 180,000 per night.
In terms of affordability, the entrance fee to this tourist destination is relatively inexpensive. Visitors are charged only IDR 10,000 for motorcycles and IDR 20,000 for cars. These affordable prices make Lappa Laona especially attractive to students and young travelers seeking budget-friendly nature tourism experiences.
Based on field observations conducted together with PIGITRIP, Lappa Laona holds significant potential for the development of nature-based and digital tourism. PIGITRIP itself is a digital tourism platform that promotes tourist destinations through digital media while helping travelers access travel information and services online. The presence of platforms like PIGITRIP represents an important step in introducing regional tourism potential to a broader audience through a more modern digital approach.
However, behind its natural beauty, several facility-related issues require serious attention from both tourism managers and local government authorities. During the observation, it was found that out of four toilet stalls available, only one was functioning properly. The prayer room (musholla) was also found in poor condition and nearly collapsing, making it unsuitable for visitors to use. In addition, lighting throughout the tourism area remains very limited and is only available near the kiosk area. These conditions may affect visitors’ comfort and safety, particularly for tourists who choose to camp or stay overnight.
These issues demonstrate that tourism destination development depends not only on natural beauty but also on adequate facilities, accessibility, and sustainable management. In tourism studies, visitor comfort is considered one of the key factors in creating positive travel experiences and encouraging tourists to revisit a destination.
Through this observation activity, students not only gained travel experience but also directly understood the opportunities and challenges involved in developing regional tourism destinations. Lappa Laona has great potential to become one of Barru Regency’s leading tourist destinations if supported by facility improvements, government attention, and collaboration among destination managers, local communities, and digital tourism platforms such as PIGITRIP.
“Tourism today is not only about destinations, but also about how a place can exist in the digital space and create engaging travel experiences for the public,” stated Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S.S., M.Hum. during the activity.
The “Lappa Laona, Barru X PIGITRIP” program proves that field practice activities not only provide tourism experiences but also serve as a creative learning medium for students in understanding the future of tourism industries driven by digitalization, collaboration, and media innovation. Despite its strengths and shortcomings, Lappa Laona remains a destination that offers a unique, peaceful, and memorable nature tourism experience. The beauty of its green savanna above the clouds serves as evidence that South Sulawesi possesses abundant tourism potential worth developing and preserving sustainably.










