KULIAH PRAKTISI PARIWISATA UNHAS BAHAS MICE SEBAGAI PENGGERAK PARIWISATA MASSAL
oleh Dirk Sandarupa
Makassar — Program Studi S1 Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, menyelenggarakan kuliah praktisi pada Mata Kuliah Pariwisata Perkotaan & MICE dengan tema “MICE: A Driver of Mass Tourism”, Kamis, 24 September 2026, pukul 20.00 WITA melalui Zoom.
Kegiatan ini menghadirkan Nur Aidin, S.M., M.Si., Ketua Dewisnu (Desa Wisata Nusantara) Perwakilan Kabupaten Kepulauan Selayar, sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE, dosen Program Studi S1 Pariwisata Universitas Hasanuddin, selaku moderator.
Dalam pemaparannya, Nur Aidin menjelaskan konsep MICE yang mencakup Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition. MICE dipandang bukan sekadar kegiatan pertemuan atau perjalanan bisnis, melainkan bagian dari industri pariwisata yang mampu mendatangkan peserta dalam jumlah besar, menciptakan pergerakan wisatawan, memperpanjang lama tinggal, serta meningkatkan penggunaan hotel, transportasi, restoran, pusat perbelanjaan, dan daya tarik wisata.
Materi juga membahas unsur-unsur dalam bisnis MICE, mulai dari kegiatan rapat perusahaan, perjalanan insentif, konferensi, hingga pameran. Penyelenggaraan MICE membutuhkan kolaborasi antara perusahaan penyelenggara atau event organizer, pemasok, pengelola venue, penyedia jasa, media, sponsor, peserta, pemerintah, dan masyarakat setempat.
Pada bagian perencanaan acara, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menentukan tujuan kegiatan, mengumpulkan informasi, melakukan studi kelayakan, membagi tugas tim, mencari sponsor, menyiapkan sumber daya, menentukan venue dan jadwal, serta menyusun rencana cadangan. Unsur keselamatan, kesehatan, keamanan, dan dampak kegiatan terhadap destinasi juga harus dipertimbangkan secara matang.
Kuliah praktisi berlangsung interaktif melalui ruang diskusi terbuka yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan teori dengan persoalan nyata dalam penyelenggaraan MICE.
Rifka Putri mengangkat pembahasan mengenai pentingnya citra dan branding sebuah event. Citra yang kuat dapat menciptakan identitas, meningkatkan kepercayaan masyarakat, menarik peserta dan sponsor, serta membuat suatu kegiatan lebih mudah diingat. Karena itu, branding perlu dibangun secara konsisten melalui tema, logo, pesan komunikasi, promosi, pelayanan, dan pengalaman peserta.
Rusdi membahas hubungan antara desa wisata dan kegiatan MICE. Menurut pembahasan tersebut, desa wisata dapat menjadi ruang penyelenggaraan micro-MICE melalui pertemuan komunitas, pelatihan, pameran produk lokal, perjalanan insentif, festival budaya, dan kegiatan ekonomi kreatif. Konsep ini dapat membuka peluang usaha sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata.
Sementara itu, Syahria Ramadani mengajukan pertanyaan mengenai faktor yang menentukan keberhasilan urban tourism dan MICE. Keberhasilannya dipengaruhi oleh aksesibilitas, fasilitas, kualitas pelayanan, keamanan, teknologi, promosi, kesiapan sumber daya manusia, serta sinergi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, masyarakat, dan media.
Geriel Gabriello menyoroti kemungkinan kerja sama antara kota yang lebih maju dan kota yang masih berkembang melalui kegiatan MICE. Kolaborasi antarkota dapat diwujudkan dalam bentuk pertukaran pengetahuan, promosi bersama, pendampingan sumber daya manusia, perluasan jaringan usaha, serta penyelenggaraan kegiatan secara bergantian. Dengan demikian, MICE dapat menjadi sarana untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih merata dan saling menguntungkan.
Adapun Syifa Zahfirah membahas aspek perizinan dalam penyelenggaraan event. Perizinan merupakan bagian penting untuk memastikan kegiatan berlangsung secara legal, aman, tertib, dan sesuai dengan ketentuan. Prosesnya dapat melibatkan izin penggunaan tempat, keramaian, keamanan, kesehatan, lingkungan, lalu lintas, penggunaan ruang publik, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait.
Dr. Dirk Sandarupa menegaskan bahwa mahasiswa pariwisata perlu memahami MICE tidak hanya sebagai teori, tetapi juga sebagai industri yang membutuhkan kreativitas, kemampuan komunikasi, ketelitian dalam perencanaan, kolaborasi, dan tanggung jawab terhadap dampak kegiatan.
Melalui kuliah praktisi ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami MICE sebagai salah satu penggerak pariwisata massal sekaligus sebagai instrumen strategis untuk mempromosikan destinasi, meningkatkan perekonomian lokal, memperkuat citra daerah, dan menciptakan pembangunan pariwisata yang inklusif serta berkelanjutan.
=======-
HASANUDDIN UNIVERSITY TOURISM GUEST LECTURE EXPLORES MICE AS A DRIVER OF MASS TOURISM
by Dirk Sandarupa
Makassar — The Undergraduate Tourism Study Program, Faculty of Cultural Sciences, Hasanuddin University, held a guest lecture for the Urban Tourism & MICE course under the theme “MICE: A Driver of Mass Tourism” on Thursday, September 24, 2026, at 8:00 p.m. Central Indonesian Time via Zoom.
The session featured Nur Aidin, S.M., M.Si., Chairperson of Dewisnu (Desa Wisata Nusantara) for the Selayar Islands Regency, as the guest speaker. The discussion was moderated by Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE, a lecturer in the Undergraduate Tourism Study Program at Hasanuddin University.
In his presentation, Nur Aidin explained that MICE comprises Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions. MICE should not merely be viewed as a series of meetings or business trips. It is an important component of the tourism industry that can attract large numbers of participants, increase visitor movement and length of stay, and generate demand for accommodation, transportation, restaurants, shopping centres, and tourist attractions.
The presentation also covered the different components of the MICE business, including corporate meetings, incentive travel, conferences, and exhibitions. Successful MICE activities require collaboration among event organisers, suppliers, venue managers, service providers, media organisations, sponsors, participants, government institutions, and local communities.
In discussing event planning, students learned about the importance of establishing clear objectives, collecting relevant information, conducting feasibility studies, distributing responsibilities, securing sponsorship, preparing resources, selecting suitable venues and schedules, and developing contingency plans. Safety, health, security, and the potential impacts of an event on its host destination must also be carefully considered.
The guest lecture included an open discussion session that allowed Hasanuddin University tourism students to connect academic concepts with practical issues in MICE management.
Rifka Putri raised the issue of an event’s image and branding. Strong branding can establish identity, build public trust, attract participants and sponsors, and make an event more memorable. Event branding should therefore be communicated consistently through its theme, logo, promotional messages, services, and overall participant experience.
Rusdi discussed the relationship between tourism villages and MICE activities. Tourism villages can serve as venues for micro-MICE activities such as community meetings, training programmes, local-product exhibitions, incentive trips, cultural festivals, and creative-economy events. These activities can create business opportunities while strengthening community participation in tourism development.
Syahria Ramadani asked about the factors that determine the success of urban tourism and MICE. Such success depends on accessibility, facilities, service quality, safety, technology, promotion, skilled human resources, and cooperation among government, industry, academia, communities, and the media.
Geriel Gabriello highlighted how more advanced cities and less-developed cities could support one another through MICE activities. Intercity collaboration can involve knowledge exchange, joint promotion, human-resource development, business networking, and the rotation of events among participating cities. MICE can consequently serve as a platform for more balanced and mutually beneficial development.
Meanwhile, Syifa Zahfirah addressed the importance of permits in event organisation. Proper licensing ensures that an event is legal, safe, orderly, and compliant with applicable regulations. Depending on the scale and location of the event, organisers may need permits related to venue use, public gatherings, security, health, environmental protection, traffic management, and the use of public spaces, along with coordination with local authorities and relevant agencies.
Dr. Dirk Sandarupa emphasised that tourism students should understand MICE not only as an academic concept but also as a professional industry that requires creativity, communication skills, careful planning, collaboration, and responsibility for the impacts generated by each event.
Through this guest lecture, students are expected to understand MICE as a major driver of mass tourism and as a strategic instrument for promoting destinations, stimulating local economies, strengthening destination branding, and advancing inclusive and sustainable tourism development.










