Kuliah Pariwisata Perkotaan dan MICE di FIB Unhas Berlangsung Interaktif, Mahasiswa Terima Doorprize dan Buku
oleh Dirk Sandarupa
MAKASSAR — Perkuliahan mata kuliah Pariwisata Perkotaan dan MICE di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas) berlangsung interaktif dan penuh antusiasme pada Kamis, 3 September 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 10.50 WITA tersebut mengangkat tema “Pariwisata Perkotaan dan MICE dalam Ruang Lingkup Lorong Wisata: From Urban Alleys to Community-Based Tourism & Micro-MICE.”
Perkuliahan menghadirkan Rahman Rumaday, praktisi pariwisata sekaligus penggiat lorong wisata, sebagai narasumber. Kegiatan dimoderatori oleh Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE., dosen Program Studi Pariwisata FIB Unhas.
Dalam pemaparannya, Rahman Rumaday menjelaskan bahwa lorong perkotaan tidak hanya dapat dipandang sebagai kawasan permukiman, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi ruang wisata berbasis masyarakat. Potensi tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan identitas lokal, pengembangan ekonomi kreatif, penyelenggaraan kegiatan berskala kecil, serta kolaborasi aktif antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan pelaku pariwisata.
Konsep Micro-MICE juga menjadi salah satu pembahasan utama dalam perkuliahan. Pertemuan, kegiatan komunitas, pameran produk UMKM, pertunjukan seni, lokakarya, dan aktivitas edukatif dapat diselenggarakan dalam skala terbatas di lingkungan lorong wisata. Meskipun memanfaatkan ruang yang relatif kecil, kegiatan tersebut dapat menghadirkan pengalaman yang berkesan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat.
Suasana kelas semakin menarik ketika mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan, dan berdiskusi langsung dengan narasumber. Sejumlah mahasiswa tampil aktif membagikan pandangan mereka mengenai pengembangan lorong wisata, kreativitas masyarakat, serta peluang mengemas kegiatan komunitas menjadi bagian dari pariwisata perkotaan.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi mahasiswa, Rahman Rumaday memberikan doorprize berupa uang tunai secara langsung kepada beberapa mahasiswa. Selain itu, sejumlah mahasiswa juga memperoleh buku-buku hasil karya narasumber. Pemberian tersebut menambah semangat mahasiswa sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap budaya membaca, pengembangan wawasan, dan keberanian untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pembelajaran pariwisata dapat berlangsung secara lebih hidup melalui dialog, praktik, dan pertukaran pengalaman. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual mengenai pariwisata perkotaan dan MICE, tetapi juga mendapatkan gambaran nyata mengenai bagaimana ruang sederhana di lingkungan masyarakat dapat dikembangkan menjadi destinasi yang kreatif, produktif, dan berkelanjutan.
Melalui semangat “Think Small Space, Create Big Experience,” lorong wisata diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan potensi masyarakat, ekonomi kreatif, pengalaman lokal, dan kegiatan Micro-MICE. Perkuliahan ini sekaligus mendorong mahasiswa untuk melihat kota dari perspektif yang lebih dekat: bahwa gagasan besar dalam pariwisata dapat tumbuh dari ruang-ruang kecil yang dikelola bersama.
=======-
Urban Tourism and MICE Class at Hasanuddin University Engages Students with Cash Prizes and Books
by Dirk Sandarupa
MAKASSAR — A highly interactive Urban Tourism and MICE class was held at the Faculty of Cultural Sciences, Hasanuddin University, on Thursday, September 3, 2026. Beginning at 10:50 a.m. Central Indonesian Time, the session explored the theme “Urban Tourism and MICE within the Scope of Tourism Alleys: From Urban Alleys to Community-Based Tourism & Micro-MICE.”
The class featured Rahman Rumaday, a tourism practitioner and tourism-alley advocate, as the guest speaker. It was moderated by Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE., a lecturer in the Tourism Study Program at the Faculty of Cultural Sciences, Hasanuddin University.
During his presentation, Rahman Rumaday explained that urban alleys should not be viewed merely as residential spaces. With community participation and appropriate management, they can be developed into distinctive community-based tourism spaces. Their potential can be strengthened through local identity, creative-economy initiatives, small-scale events, and collaboration among residents, government institutions, academics, and tourism stakeholders.
Micro-MICE was among the key concepts discussed during the session. Community meetings, micro-enterprise exhibitions, cultural performances, workshops, and educational activities can be organized on a modest scale within tourism alleys. Although conducted in relatively small spaces, these activities can create memorable visitor experiences while generating social and economic benefits for local communities.
The atmosphere became even more engaging as students were invited to express their views, answer questions, and interact directly with the guest speaker. Several students actively shared ideas about tourism-alley development, community creativity, and ways of transforming local activities into meaningful urban-tourism experiences.
To recognize their active participation, Rahman Rumaday personally presented cash prizes to several students. Other participants also received books authored by the guest speaker. These rewards added excitement to the class while supporting reading culture, broader learning, and students’ confidence in participating in academic discussions.
The session demonstrated that tourism education can become more meaningful through dialogue, practical examples, and the exchange of experience. Students gained not only a conceptual understanding of urban tourism and MICE but also practical insights into how modest community spaces can be transformed into creative, productive, and sustainable destinations.
Inspired by the message “Think Small Space, Create Big Experience,” tourism alleys are expected to become collaborative spaces that bring together community potential, the creative economy, local experiences, and Micro-MICE activities. The class also encouraged students to view the city from a closer perspective and recognize that major tourism ideas can emerge from small spaces developed collectively.
