Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

KONFLIK CHIEF ENGINEERING VS GM HOTEL BARU

Kajian Akademis

KONFLIK CHIEF ENGINEERING VS GM HOTEL BARU

Konflik antara Chief Engineering yang berpengalaman dan General Manager (GM) baru dapat dipahami sebagai manifestasi ketegangan struktural antara tacit knowledge dan otoritas formal dalam organisasi perhotelan. Chief Engineering merepresentasikan akumulasi pengetahuan berbasis pengalaman yang bersifat implisit dan kontekstual, sebagaimana dijelaskan dalam teori penciptaan pengetahuan organisasi oleh Nonaka dan Takeuchi (1995), di mana pengalaman operasional jangka panjang menjadi sumber legitimasi informal yang kuat. Sebaliknya, GM baru membawa legitimasi struktural yang bersumber dari mandat organisasi dan strategi korporat. Perbedaan basis legitimasi ini menciptakan potensi konflik laten, terutama ketika keputusan strategis tidak sepenuhnya mengakomodasi kompleksitas teknis dan risiko operasional.

Dari perspektif implementasi strategi, konflik tersebut mencerminkan kesenjangan antara formulasi strategis dan realitas operasional. Okumus (2004) menegaskan bahwa kegagalan implementasi strategi sering kali disebabkan oleh lemahnya integrasi antara aktor strategis dan aktor operasional dalam organisasi jasa. Dalam konteks hotel, GM baru cenderung menekankan efisiensi, standardisasi, dan pencapaian indikator kinerja jangka pendek, sementara Chief Engineering memprioritaskan stabilitas sistem, keselamatan aset, dan keberlanjutan jangka panjang. Ketegangan ini bukan sekadar perbedaan preferensi, melainkan perbedaan logika institusional yang memengaruhi cara masing-masing aktor memaknai risiko dan kinerja organisasi.

Peran VP Operasional Hotel menjadi krusial sebagai mekanisme tata kelola yang menjembatani dua logika tersebut. Floyd dan Wooldridge (1997) menjelaskan bahwa manajemen tingkat atas dan menengah memiliki fungsi strategis sebagai boundary spanner yang menghubungkan kepentingan strategis dan operasional. Dalam kerangka ini, VP Operasional bertindak sebagai integrator yang mengklarifikasi pembagian peran, menyelaraskan ekspektasi, serta memfasilitasi dialog berbasis analisis risiko dan kinerja jangka panjang. Posisi struktural VP Operasional memungkinkan terciptanya keseimbangan antara otoritas GM dan keahlian profesional Chief Engineering.

Lebih lanjut, dari sudut pandang teori kepemimpinan dan organisasi, intervensi VP Operasional berkontribusi pada pembentukan kapabilitas organisasi dalam mengelola konflik secara produktif. Mintzberg (2009) menekankan bahwa efektivitas manajerial tidak hanya ditentukan oleh otoritas formal, tetapi juga oleh kemampuan mengelola relasi, pengetahuan, dan ketegangan organisasi. Dengan memfasilitasi pembelajaran kolektif, pendampingan kepemimpinan GM baru, serta integrasi pengetahuan teknis ke dalam pengambilan keputusan strategis, VP Operasional dapat mengubah konflik antara Chief Engineering berpengalaman dan GM baru menjadi sumber peningkatan kualitas keputusan dan keberlanjutan operasional hotel.

JS BUDI – dari berbagai sumber