Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

KOFLIK FBS & FBK DAN SOLUSI TEPAT DARI GM

Kajian Akademis

Konflik Departemen Food & Beverage Service vs Food & Beverage Product di Hotel dan Solusi Tepat dari General Manager

Konflik antara Departemen Food & Beverage (F&B) Service dan F&B Product dalam manajemen hotel merupakan bentuk konflik lintas fungsi yang bersumber dari perbedaan orientasi peran dan indikator kinerja. F&B Service berfokus pada kualitas layanan, kecepatan penyajian, kepuasan tamu, dan pengalaman konsumsi secara langsung, sedangkan F&B Product (kitchen) menitikberatkan pada standar resep, efisiensi produksi, pengendalian biaya bahan baku, dan konsistensi mutu produk. Perbedaan fokus ini mencerminkan ketegangan antara orientasi pelanggan dan orientasi proses internal, sebagaimana dijelaskan dalam kerangka konflik fungsional organisasi oleh Robbins (2005). Ketika tujuan operasional tidak diselaraskan, perbedaan tersebut berpotensi berkembang menjadi konflik struktural yang mengganggu kinerja F&B secara keseluruhan.

Dari perspektif manajemen operasional, konflik F&B Service dan F&B Product sering dipicu oleh ketidakseimbangan tuntutan fleksibilitas dan standar. F&B Service cenderung menuntut adaptasi menu, kecepatan respons, dan penyesuaian terhadap preferensi tamu, sementara F&B Product menekankan kepatuhan terhadap standar resep, kapasitas dapur, dan efisiensi biaya. Jones dan Lockwood (2004) menegaskan bahwa dalam operasi perhotelan, kegagalan menyelaraskan tuntutan layanan dan proses produksi dapat menurunkan kualitas layanan sekaligus meningkatkan tekanan kerja antar departemen. Tanpa koordinasi yang efektif, konflik ini berpotensi memengaruhi konsistensi produk, waktu penyajian, serta persepsi kualitas oleh tamu.

Dalam konteks ini, General Manager (GM) memiliki peran strategis sebagai integrator lintas fungsi dan pengambil keputusan tertinggi di tingkat operasional. GM bertanggung jawab menyelaraskan tujuan F&B Service dan F&B Product melalui mekanisme koordinasi yang jelas, termasuk penetapan standar kinerja bersama dan forum komunikasi rutin. Kaplan dan Norton (1996) menekankan bahwa penyelarasan tujuan lintas fungsi melalui kerangka Balanced Scorecard memungkinkan organisasi mengintegrasikan perspektif pelanggan, proses internal, dan kinerja keuangan. Dengan pendekatan ini, GM dapat memastikan bahwa kualitas layanan dan efisiensi produksi tidak diperlakukan sebagai tujuan yang saling bertentangan, melainkan sebagai elemen yang saling melengkapi.

Secara teoritis, solusi GM terhadap konflik F&B Service dan F&B Product terletak pada kemampuannya membangun tata kelola kolaboratif dan budaya kerja terpadu. Mintzberg (2009) menegaskan bahwa efektivitas manajerial bergantung pada kemampuan mengelola relasi, konflik, dan aliran kerja antar unit organisasi. Dengan memfasilitasi dialog berbasis data, memperjelas peran dan batas kewenangan, serta menekankan tanggung jawab bersama terhadap kepuasan tamu dan profitabilitas F&B, GM dapat mengubah konflik menjadi mekanisme pembelajaran organisasi. Pendekatan ini memungkinkan konflik lintas fungsi berkontribusi positif terhadap peningkatan kualitas layanan dan keberlanjutan kinerja hotel.

JS BUDI – dari berbagai sumber