Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

Ito San: Orang Jakarta yang Mendadak Jadi Menteri Luar Negeri ASEAN di Bali

Nippon Maru Corner

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ito San: Orang Jakarta yang Mendadak Jadi Menteri Luar Negeri ASEAN di Bali

Reuni SSEAYP 1989 di Bali awalnya dirancang sebagai Bali Informal Meeting. Namun, melihat peserta yang hadir berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei, dan Jepang, suasananya lebih mirip sidang tingkat tinggi ASEAN daripada reuni biasa.

Di tengah ruangan berdirilah Ito San, Ketua Panitia yang kebetulan tinggal di Bali. Meski sehari-hari dikenal sebagai wakil DKI Jakarta, hari itu beliau mendadak berubah menjadi moderator internasional.

Dengan mikrofon di tangan, Ito San membuka acara dengan penuh wibawa.

“Selamat datang para delegasi ASEAN dan Jepang.”

Semua peserta langsung tertawa.

Seorang peserta berbisik, “Untung ini reuni. Kalau bukan, saya kira mau tanda tangan perjanjian perdagangan.”

Di atas meja terlihat balon warna-warni, spidol, botol air mineral, dan berbagai catatan. Kombinasi yang sangat unik.

“Ini rapat serius atau pesta ulang tahun?” tanya seseorang.

“Ya!” jawab peserta lain.

Gelak tawa pun memenuhi ruangan.

Saat diskusi berlangsung, setiap negara mulai berbagi cerita kehidupan setelah 25 tahun berlalu. Namun karena sudah lama tidak bertemu, topik pembicaraan lebih banyak tentang kolesterol, tekanan darah, dan jadwal minum vitamin dibandingkan isu regional ASEAN.

Ito San kemudian mencoba mengembalikan suasana.

“Baik, mari kita fokus pada agenda utama.”

“Agenda apa?” tanya peserta.

“Mencari tahu siapa yang masih bisa begadang sampai jam dua pagi seperti tahun 1989.”

Ruangan langsung pecah oleh tawa.

Hasil rapat akhirnya menghasilkan satu keputusan bersejarah: ASEAN boleh berkembang, teknologi boleh berubah, dan usia boleh bertambah. Namun persahabatan SSEAYP 1989 tetap menjadi kerja sama internasional paling sukses yang pernah mereka bangun.

 

=======-

Ito San: The Jakarta Delegate Who Suddenly Became ASEAN’s Foreign Minister in Bali

The SSEAYP 1989 Reunion in Bali was officially called the Bali Informal Meeting. However, with participants representing Indonesia, Singapore, Malaysia, Thailand, the Philippines, Brunei, and Japan, the gathering looked more like an ASEAN Summit than a reunion.

Standing confidently at the front of the room was Ito San, the event chairman who happened to live in Bali. Although he originally represented Jakarta, on that day he transformed into an international conference moderator.

Holding a microphone, Ito San opened the meeting with great authority.

“Welcome, distinguished delegates of ASEAN and Japan.”

The room immediately burst into laughter.

One participant whispered, “Good thing this is a reunion. Otherwise, I’d think we were about to sign a trade agreement.”

On the tables were colorful balloons, markers, water bottles, and meeting materials—a very unusual combination.

“Is this a serious conference or a birthday party?” someone asked.

“Yes,” replied another participant.

Everyone laughed.

As the discussion began, each country shared stories about life after twenty-five years. But since they had not met for so long, the conversation focused less on regional issues and more on cholesterol levels, blood pressure, and vitamin schedules.

Trying to regain control of the meeting, Ito San announced,

“Let us return to the main agenda.”

“What agenda?” someone asked.

“Finding out who can still stay awake until 2 a.m. like we did in 1989.”

The room exploded with laughter.

The meeting eventually produced one historic conclusion: ASEAN may expand, technology may change, and age may increase, but the friendship built through SSEAYP 1989 remains the most successful international partnership they have ever created.