ITALIA (ROMA): “Brodin, Colosseum, dan Salah Paham Pizza”
Brodin tiba di Roma dengan gaya yang sama sejak dulu: jas hitam rapi, kaos sleret-sleret khas Madura, dan tas selempang kecil yang isinya campur aduk antara paspor, receh, dan daftar titipan teman Bangkalan. Saat petugas bandara melihat paspornya bertuliskan HELPFUL TRAVELER, petugas itu tersenyum dan berkata panjang. Brodin hanya menjawab pendek,
“Sì, sì.” (Ya, ya).
Roma terasa panas dan penuh sejarah. Brodin berdiri lama di depan Colosseum, menatap bangunan tua raksasa itu. Ia mengangguk kagum sambil bergumam,
“Gedung jaman dulu, tapi kokoh ben.” (Gedung zaman dulu, tapi kokoh sekali ya.)
Tujuan utama Brodin tentu saja: belanja souvenir. Ia masuk toko kecil dekat Colosseum yang menjual miniatur bangunan, magnet pizza, dan kaos bertuliskan Roma. Penjual menyapa dengan suara keras dan ekspresif.
“Ciao, amico!” (Halo, teman!)
Brodin refleks menunduk sopan.
“Ciao.” (Halo.)
Lalu ia menunjuk miniatur Colosseum.
“Quanto costa?” (Berapa harganya?)
Penjual menjawab panjang sambil gestur tangan ke mana-mana. Brodin cuma menangkap angka dan kata euro. Ia mengangguk mantap.
“Va bene.” (Baiklah.)
Lalu berbisik ke dirinya sendiri,
“Tak ngarti tape’ yakin.” (Tidak mengerti tapi yakin.)
Brodin lalu melihat magnet kulkas berbentuk pizza. Ia tersenyum lebar.
“Pizza cocok ka Madura.” (Pizza cocok ke Madura.)
Penjual tertawa dan berkata cepat lagi. Brodin hanya menjawab,
“Sì.” (Ya.)
Masalah muncul saat Brodin mengira satu set magnet pizza itu bonus, padahal harus bayar terpisah. Saat dihitung ulang, Brodin kaget sebentar, lalu tertawa.
“Ah, salah paham.”
Lalu berkata santai,
“Tak papa, rejeki oreng.” (Tidak apa-apa, rezeki orang.)
Di luar toko, Brodin membantu turis tua membawa belanjaan. Penjual melihat itu dan memberi Brodin diskon kecil.
“Grazie mille.” (Terima kasih banyak.)
Brodin membalas,
“Mator sakalangkong.” (Terima kasih banyak.)
Sore hari, Brodin duduk di tangga sambil membuka tas belanja: mini Colosseum, magnet pizza, kaos Roma, dan gantungan kunci Vespa. Ia tersenyum puas.
“Konco Bangkalan pasti seneng.” (Teman Bangkalan pasti senang.)
Roma ditinggalkan Brodin dengan langkah ringan, jas hitam tetap rapi, dan hati penuh cerita.
=======-
ITALY (ROME): “Brodin, the Colosseum, and the Pizza Misunderstanding”
Brodin arrived in Rome wearing his classic outfit: black suit, Madurese striped T-shirt, and a small sling bag filled with random things and big intentions. Immigration saw his passport title: HELPFUL TRAVELER and just nodded like, “Yeah… that tracks.”
Standing in front of the Colosseum, Brodin stared in silence.
“This building is OLD old,” he whispered. Respectfully impressed.
Then it was shopping time.
Inside a souvenir shop near the Colosseum, the seller greeted him loudly:
“Ciao, amico!” (Hello, friend!)
Brodin bowed politely like a gentleman from Madura.
“Ciao.”
He pointed at a Colosseum miniature and asked bravely,
“Quanto costa?” (How much?)
The explanation was long, emotional, and full of hand movements. Brodin understood exactly 12% of it—but nodded confidently anyway.
“Va bene.” (Alright.)
Then he spotted pizza-shaped fridge magnets. His eyes lit up.
“Pizza for my friends? Perfect.”
Here comes the plot twist: Brodin thought the pizza magnets were a free bonus.
They were not.
When the total price came out higher, Brodin paused for half a second… then laughed.
“No worries. Friendship is priceless.”
Because he’s Brodin, he helped an old tourist outside. The shop owner saw this and gave him a small discount. Karma activated.
“Grazie mille!” (Thank you very much!)
Brodin smiled like a winner.
That night, Brodin checked his shopping bag: Colosseum minis, pizza magnets, Roma T-shirts, Vespa keychains. He nodded proudly.
Rome was conquered—not by money, but by kindness, confusion, and good vibes.










