ESSAY: TIPPING #04
Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata terima kasih diartikan sebagai berikut:
1. (n) rasa syukur;
2. (v) mengucap syukur; melahirkan rasa syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan dan sebagainya.
Orang Jepang menyebutnya ありがとうございました (Arigatōgozaimashita-red), “Merci” dalam bahasa Perancis, “Danke” kata orang Jerman, dan “Grazie” sahut orang Italia.
Setiap hari kita ucap, tapi kita tidak menyadarinya bahwa terima kasih membawa makna filosofis dalam kehidupan berbangsa. Simbolis dikatakan, tatkala kita merima sesuatu (terima), seyogyanya kita memberi (kasih) atau minimalnya kita bersyukur atas pemberian tersebut.
Perihal inilah yang mengantar bangsa Indonesia memiliki budaya saling menerima dan memberi, juga sebaliknya: memberi dan menerima. Namun, budaya ini juga yang melahirkan konotasi negatif atas kesalahan tafsir pada kosa kata tsb, yaitu terjadinya lingkaran gratifikasi. Sebuah simbiosis mutualisme di masyarakat.
So, rumusnya: tatkala Anda terima rezeki, kasihkanlah kepada yang lain pula. Lebih dasyat lagi, kalau protokol ini dibalik: berikanlah terlebih dahulu dengan ikhlas. Lantas, rasakan khasiatnya: Anda pasti menerima sesuatu yang Allah berikan. Minimalnya, kesehatan diri Anda.
Berani coba?
TIM










