ESSAY: PLESETAN BTS MEAL
Jujur, bangsa Indonesia merupakan satu-satunya bangsa yang suka menghadapi kehidupan dengan canda. Sesulit apapun problematika hidup, kadang dihadapinya dengan senyum dan gurauan. Kata kunci terakhir adalah ambil hikmahnya. Sebuah jurus pamungkas dalam kehidupan.
Harusnya, di setiap airport dan seaport dipasang tagline: WELCOME TO INDONESIA, YOU ARE ENTERING THE SMILING ZONE. Kebayang, para turis yang turun dari pesawat terbang dan kapal laut, pasti menyeringai seraya berguman, “We come to the right place, honey!”
Tidaklah berlebihan bila faktor psikologis yang suka bercanda tersebut dianggap sebagai faktor paling dominan dalam membawa bangsa ini untuk tetap tenang walau pandemi berkecambuk selama 15 purnama berlalu. Juga, orang kaya beli mobil dapat diskon pajak, sementara kebutuhan sembako dan berbobat yang notabene-nya merupakan kebutuhan dasar bagi orang kecil, akan terbidik menjadi objek pajak. Ironis, kan?
Jadi, jangan terkaget-kaget atas kemunculan hal-hal aneh yang membuat Anda tersenyum hingga auto-ngakak melihat tingkah bangsa ini: Orang cadel bisa merilis album lagu. Orang tidak lulus kuliah diwaktu muda, tuanya diangkat jadi profesor. Bahkan penyanyi yang tidak tahu manajemen diamanahi jadi komisaris di perusahaan BUMN bergengsi. Apa saja bisa dimungkinkan terjadi di negeri ini.
Seperti halnya kesuksesan The BTS Meal minggu lalu, dengan nada cengengesanpun, langsung diplesetkan dengan meme lucu: BTS = Baso Tahu Siomay. Sungguh, inilah negeri para seniman pencetak apapun dan siapapun menjadi sesuatu sesuai pesanan. I really love my country. Right or wrong, this is my beloved country.
So, Andapun dimungkinkan menjadi icon maker dan product maker baik secara kolaborasi, konspirasi, atau hanya bersolo kreativitas untuk menghasilkan karya plesetan.
Moral story: janganlah suka nyinyir di negeri ini, karena Tuhan pun menciptakan bangsa ini mungkin sambil senyum. Bahkan, mungkin sambil ngakak juga.
TIM










