ESSAY PARIWISATA: EKONOMI EMOSI
Pada suatu kesempatan, saya datang terlambat ke sebuah acara di pusat perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara. Langkah saya dipercepat oleh rasa panik, hingga tiba-tiba seorang petugas keamanan menghentikan saya.
“Move, sir. Anda tidak boleh melewati area ini.”
Saya refleks bertanya, “Kenapa tidak?”
Dengan ekspresi tegang dan suara meninggi, ia menjawab,
“Tidak terlihat jelas? Ini jalur darurat. Silakan keluar.”
Nada bicaranya memicu reaksi emosional dalam diri saya. Rasa kesal, marah, dan kebingungan muncul bersamaan, seolah emosi petugas itu berpindah dan menetap di dada saya.
Saat seseorang mengekspresikan emosi negatif dan sikap tidak menghargai kepada kita, dampaknya bukan sekadar psikologis, tetapi juga neurologis. Emosi dapat berpindah dari satu orang ke orang lain tanpa disadari.
Setiap pertemuan manusia menyimpan muatan emosional. Inilah yang membentuk ekonomi emosi—sebuah pertukaran batin yang menghasilkan keuntungan atau kerugian perasaan. Akumulasi pengalaman emosional tersebut menentukan bagaimana kita menilai hari yang telah kita lewati.
Pada saat itu, amigdala di otak saya bereaksi cepat, mengaktifkan mekanisme bertahan hidup: bersiap melawan, menghindar, atau diam membeku dalam menghadapi ancaman.
TIM










