Ekowisata Rumput Laut: Inovasi Produk Pesisir sebagai Peluang Pariwisata Berkelanjutan Sulawesi Selatan
Potensi rumput laut di wilayah pesisir Sulawesi Selatan tidak hanya berhenti sebagai komoditas bahan mentah, tetapi terus berkembang menjadi produk bernilai tambah yang mendukung konsep ekowisata berkelanjutan. Hal ini terlihat dari lahirnya berbagai produk olahan rumput laut seperti minyak rumput laut, sabun rumput laut, dan masker rumput laut yang diproduksi oleh Ratna Sari, S.Pi., M.Si., pelaku inovasi berbasis sumber daya pesisir.
Bahan baku produk-produk tersebut berasal dari wilayah pesisir Takalar, Bulukumba, dan Kepulauan Selayar, daerah yang selama ini dikenal sebagai sentra budidaya rumput laut. Melalui pengolahan yang kreatif dan ramah lingkungan, rumput laut tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi daya tarik baru dalam pengembangan pariwisata berbasis edukasi dan keberlanjutan.
Ratna Sari, S.Pi., M.Si. menjelaskan bahwa proses produksi dilakukan dengan prinsip pemberdayaan masyarakat lokal. “Rumput laut kami peroleh langsung dari petani pesisir. Tujuan utama kami bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Menanggapi inovasi tersebut, Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE, akademisi dan penggiat pariwisata, menilai bahwa pengembangan produk olahan rumput laut ini merupakan bentuk konkret dari ekowisata, yaitu pariwisata yang mengintegrasikan lingkungan alam, pengetahuan lokal, dan ekonomi kreatif masyarakat.
“Ketika rumput laut tidak hanya dipanen, tetapi diolah menjadi minyak, sabun, dan masker, maka di situlah nilai ekowisata terbentuk. Wisatawan tidak hanya menikmati alam pesisir, tetapi juga belajar tentang proses produksi, kearifan lokal, dan prinsip keberlanjutan,” jelas Dr. Dirk Sandarupa.
Ia menambahkan bahwa wilayah Takalar, Jeneponto, dan Selayar memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata rumput laut, melalui konsep wisata edukasi, kunjungan ke sentra produksi, hingga wisata kesehatan (wellness tourism) berbasis produk alami laut.
Menurut Dr. Dirk, ekowisata rumput laut dapat menjadi jembatan strategis antara sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. “Ini bukan sekadar menjual produk, tetapi membangun narasi pariwisata yang berakar pada identitas lokal dan menjaga keseimbangan ekologi,” tambahnya.
Dengan kolaborasi antara inovator lokal, akademisi, dan masyarakat pesisir, pengembangan produk rumput laut ini diharapkan mampu memperkuat posisi Sulawesi Selatan sebagai wilayah unggulan dalam pariwisata berbasis ekologi dan kearifan lokal.
=======-
Seaweed Ecotourism: Coastal Innovation and Sustainable Tourism Opportunities in South Sulawesi
The coastal areas of South Sulawesi are not only rich in marine resources but also offer strong potential for seaweed-based ecotourism. This potential is reflected in the development of value-added seaweed products such as seaweed oil, seaweed soap, and seaweed facial masks, produced by Ratna Sari, S.Pi., M.Si.
The raw materials for these products come from Takalar, Bulukumba, and the Selayar Islands, well-known seaweed farming areas in South Sulawesi. Through simple and environmentally friendly processing, seaweed is transformed from a raw commodity into innovative products with economic and tourism value.
Ratna Sari, S.Pi., M.Si. explained that the production process focuses on sustainability and community empowerment. “We work directly with local seaweed farmers. Our goal is not only to produce goods, but also to support the local coastal economy,” she said.
According to Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE, an academic and tourism observer, these seaweed-based products represent a clear opportunity for ecotourism development.
“When seaweed is processed into oil, soap, and facial masks, it becomes more than a product. It becomes part of an ecotourism experience, where visitors can learn about local knowledge, sustainable production, and coastal culture,” Dr. Sandarupa explained.
He added that Takalar, Jeneponto, and Selayar have strong potential to be developed as seaweed ecotourism destinations, offering educational tours, visits to production centers, and wellness tourism based on natural marine products.
Dr. Dirk says that collaboration between local innovators, academics, and coastal communities, seaweed-based ecotourism has the potential to grow as an alternative tourism model in South Sulawesi. This approach not only increases the economic value of marine resources, but also promotes environmental awareness, cultural knowledge, and sustainable livelihoods for coastal communities.
By connecting innovation, local communities, and sustainable tourism, seaweed ecotourism can strengthen South Sulawesi’s position as a region that promotes environmentally friendly tourism and local wisdom.
=======-










