DONGENG PARIWISATA: SRIWIJAYA, MANDALA BESAR YANG LENYAP
Tidak ada imperium dalam sejarah yang lenyap sedemikian menyeluruh seperti Sriwijaya. Kerajaan besar Nusantara ini nyaris hilang tanpa jejak, meskipun pernah bertahan hampir seribu tahun dan menguasai jalur perdagangan laut antara Tiongkok dan Asia Tenggara. Keberadaan Sriwijaya baru kembali terungkap pada dekade 1930-an, ketika George Coedès menjelaskannya berdasarkan sumber-sumber catatan Tiongkok. Penemuan arca Buddha, keramik Tiongkok, serta bukti arkeologis lainnya kemudian menguatkan kesimpulan para ahli bahwa Palembang merupakan pusat utama Kerajaan Sriwijaya.
Lantas, mengapa Palembang dipilih sebagai pusat kerajaan? Secara geografis, wilayah ini tampak kurang ideal. Tanahnya berupa rawa-rawa bakau yang tidak mendukung pemukiman padat. Namun, Palembang memiliki keunggulan strategis: letaknya dekat sungai besar yang memungkinkan kapal-kapal berlabuh dengan aman dan memuat berbagai komoditas berharga seperti kayu, emas, dan bahan pangan.
Catatan Tiongkok abad ke-7 M menyebut bahwa Sriwijaya secara rutin mengirimkan upeti ke istana kekaisaran dengan nama “Shi-li-fo-shi”. Biksu Tiongkok bernama Yijing, yang singgah pada tahun 671 M, melaporkan bahwa di dalam benteng Fo Shi terdapat lebih dari seribu biksu Buddha yang mempelajari ajaran agama secara mendalam. Ia juga mencatat bahwa para biksu Tiongkok yang hendak melanjutkan studi agama Buddha ke India sebaiknya tinggal di Fo Shi selama satu atau dua tahun terlebih dahulu untuk mempelajari tata perilaku dan disiplin keagamaan yang benar.
Kapal-kapal besar dari Arab dan India berada dalam lingkup pengaruh Sriwijaya. Para pedagang asing menggunakan pelabuhan Sriwijaya dan diwajibkan membayar bea. Mereka umumnya tidak melanjutkan pelayaran berisiko ke wilayah Filipina dan Indonesia Timur; jalur tersebut ditangani oleh para pelaut Nusantara. Dengan menguasai simpul perdagangan ini, Sriwijaya meraih kemakmuran besar dan menempati posisi penting dalam jaringan perdagangan dunia pada masanya.










