Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

DONGENG PARIWISATA: NYINYIRIN KEBIJAKAN HOTEL

Dongeng Pariwisata

DONGENG PARIWISATA: NYINYIRIN KEBIJAKAN HOTEL

“Pak, anak buah dan rekan selevel saya nulis di medsos. Intinya nyindir-nyindir dan nyinyirin kebijakan hotel yang dianggapnya mendzolimin mereka. Apa yg harus saya perbuat, Pak?” chat seorang HR Mgr.

Jujur, secara makro, budaya kita tidak pernah lagi merasakan nilai kepatutan dalam kegelapan. Sejak kepergian bangsa Jepang dari muka bumi Indonesia, rasa ketakutan komunal tidak ada lagi. Thus, hanya di jaman Orde Baru, pimpinan Pak Harto, bangsa ini merasakan adanya ketakutan domestik.

Saya masih ingat, tatkala Toyota mengalami krisis yang membawanya hampir bangkrut, yg dilakukan pegawainya adalah datang pada CEO (big boss) seraya mengatakan, potong gaji kami. Selamatkan perusahaan semaksimal mungkin. “jibun no koto wa jibun desuru!”

Di +62 tdk spt itu. “Giliran owner untung diem, giliran owner rugi ngoceh !” dan semangat pegawainyapun: MAJU TAK GENTAR MEMBELA YG BAYAR. Hehe

Yang perlu Anda lakukan sebagai HR Mgr adalah DIAM. Karena diam merepresentasikan 1000 tafsir. Justru dg diam-nya Anda, mereka akan takut. Takut pada kesalahan mrk sendiri mengapa sampai terbawah arus amarah. Toh semua hotel juga sama. COLAPSE, mati suri. Sampaikan saja sambil bernyanyi, “Badai, pasti berlalu.”

Catat, MANY TALKS, MANY MISTAKES !

Salam.