Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

DONGENG PARIWISATA: MAKNA GHOIB DARI RELOKASI MALIOBORO

Dongeng Pariwisata

DONGENG PARIWISATA: MAKNA GHOIB DARI RELOKASI MALIOBORO


Tulisan ini sama sekali tidak akademis.
Tidak perlu diperdebatkan dalam nuansa scientific.
Gak nyambung.
Namun, dalam dunia intelijen, ini disebut dengan KIRDUK, yaitu Perkiraan Dukun.
Hehehe kosa kata baru yang tidak pernah Anda dengar, ya?

Alkisah, ada satu hal yang identik dengan sederetan Jalan Marga Utama – Malioboro – Marga Mulya, yakni ditanamnya vegetasi pohon Gayam dan Pohon Asem Jawa di sepanjang pinggir jalan ketiganya. Gayam memiliki makna Ayom (mengayomi) dan Asem menggambarkan Nengsemake (menawan). In fact, ketiga jalan tersebut benar-benar mengayomi kawula alit sekitar istana dan menawan bagi siapa saja yang datang. Sehingga muncul sebuah ikon “Anda belum merasa di Jogya sebelum duduk lesehan di Malioboro.”

Sampai disini, ada yang protes dengan pernyataan saya ini?
Hehehe
Ngopi dulu!

Berlanjut, bahwa pohon Gayam dan Asem sudah dipangkas atas nama keindahan kota. Stage pertama penghapusan nilai spiritual nan filsafati tercabut dari pakemnya. Nilai kehidupan vegetasi musnah dari pandangan kasat mata manusia.

Sekarang, nilai kehidupan komunitas manusia dalam mencari kehidupan, tercabik. Bukan tercabut!
Karena mereka direlokasi dari kehidupan keseharian nan bersahaja.
Anggap saja kehidupan mereka di-upgrade menuju ke kehidupan yang lebih baik menurut para desainer tata kota, regulator dan politisi. Tapi, akselerasi kehidupan sosial mereka yang akan rancu dan belum tentu bisa membahagiakan mereka. Ini, sama dengan kita nonton televisi seri tayangan Tukar Nasib.

“Ah, itu kan untuk saat ini. Manusia pasti bisa menyesuaikan diri.”
Betul. Pastinya butuh waktu untuk penyesuaian tersebut. Itu tentang mereka yang terelokasi.

Tapi, bagaimana dengan Malioboro?
Bagi saya, Malioboro akan menjadi Kawasan Exclusive dimana para wisatawan / pengembara akan kecele, mereka tidak menemukan lagi Malioboro yang tercetak di benak mereka. Walhasil, ya, cukup sekali saja ke Malioboro. Ini yang menjadi kegalauan aliran skeptifisme seperti saya.

Thus, yang sangat saya kuatirkan lagi bila ini merembet pada kekuasaan istana, dimana secara filsafati bahwa tatanan kehidupan vegatasi telah tercabut dan tatanan kehidupan komunitas manusia pun telah tercabik. Perihal yang perlu direnungkan kembali oleh Paduka Yang Mulia Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah apabila kekuatan doa berikut kekuatan ghoib dari kedua premises (vegetasi dan komunitas manusia) itu sirna untuk kejayaan dan kelanggengan istana. Mohon Paduka Sinuwun untuk mempertimbangkan secara ghoib, bukan secara akademis yang telah dilakukan dengan baik oleh para desainer tata kota, regulator dan politisi di sekeliling Paduka Yang Mulia.

Salam.