Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

DIKEMAS: Dari Museum Fisik Menuju Ruang Pengetahuan Digital (Digitalisasi Kebudayaan Makassar melalui Virtual Tour 360° Museum Kota Makassar)

Pendidikan dan Kebudayaan

DIKEMAS: Dari Museum Fisik Menuju Ruang Pengetahuan Digital

(Digitalisasi Kebudayaan Makassar melalui Virtual Tour 360° Museum Kota Makassar)

oleh Dirk Sandarupa

MAKASSAR — Museum tidak lagi harus menunggu pengunjung datang.

Di tengah perubahan cara masyarakat mengakses informasi, Museum Kota Makassar menghadirkan DIKEMAS (Digitalisasi Kebudayaan Makassar), sebuah inovasi layanan digital yang memungkinkan masyarakat menjelajahi Museum Kota Makassar secara virtual melalui teknologi panorama 360°.

Inovasi ini digagas oleh Nur Rahmiani Achmad, S.IP., MM.Par., sebagai upaya menghadirkan pengalaman museum yang lebih terbuka, adaptif, edukatif, dan sesuai dengan perkembangan teknologi digital.

Melalui Virtual Tour Museum Kota Makassar, masyarakat dapat melihat ruang-ruang museum, menjelajahi lingkungan pamer, mengenal koleksi, serta memperoleh informasi mengenai sejarah dan budaya Kota Makassar tanpa harus hadir secara fisik di lokasi.

Dari Museum yang Dikunjungi Menjadi Museum yang Dapat Dijangkau

Selama ini, pengalaman mengunjungi museum sangat bergantung pada jarak, waktu, kesempatan, dan kondisi pengunjung. Konsekuensinya, tidak semua masyarakat memiliki kesempatan untuk datang langsung ke museum.

DIKEMAS menjawab tantangan tersebut dengan memperluas definisi akses museum.

Jika sebelumnya masyarakat harus datang untuk mengenal museum, kini museum dapat hadir lebih dekat kepada masyarakat. Dengan perangkat digital, pengalaman menjelajahi museum dapat dilakukan kapan saja dan dari mana saja.

Inilah nilai utama DIKEMAS: digitalisasi bukan sekadar memindahkan informasi ke ruang digital, melainkan memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan sejarah dan kebudayaan.

Satu Inovasi, Banyak Manfaat

DIKEMAS dirancang tidak hanya sebagai media promosi Museum Kota Makassar, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan layanan edukasi dan kebudayaan.

Masyarakat umum dapat mengenal museum dengan lebih mudah. Pelajar dan mahasiswa dapat memanfaatkannya sebagai sumber pembelajaran. Peneliti memperoleh akses awal terhadap informasi koleksi dan ruang museum. Wisatawan dapat mengenal Museum Kota Makassar bahkan sebelum merencanakan kunjungan secara langsung.

Bagi Museum Kota Makassar dan Dinas Kebudayaan Kota Makassar, inovasi ini menjadi instrumen untuk memperluas jangkauan layanan, memperkuat promosi, serta membangun pengalaman museum yang lebih relevan dengan perilaku masyarakat pada era digital.

Museum Tanpa Batas Ruang dan Waktu

Keunggulan utama DIKEMAS terletak pada pemanfaatan teknologi virtual tour 360°.

Pengunjung tidak hanya melihat foto museum secara pasif, tetapi dapat merasakan pengalaman menjelajahi ruang secara lebih interaktif melalui perangkat digital.

Konsep ini menjadikan museum tidak lagi semata-mata sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai ruang pengetahuan digital. Dengan demikian, koleksi dan narasi kebudayaan Makassar memiliki peluang untuk menjangkau audiens yang jauh lebih luas.

Dari Inovasi Menjadi Praktik yang Direplikasi

Salah satu kekuatan DIKEMAS adalah keberlanjutannya.

Inovasi ini mulai diterapkan pada 2024 dan kemudian menunjukkan potensi pemanfaatan yang lebih luas. Pada periode 2025–2026, DIKEMAS telah direplikasi oleh Politeknik STIA LAN Makassar.

Replikasi tersebut menjadi bukti bahwa inovasi digital di sektor kebudayaan tidak berhenti pada penciptaan sebuah produk, tetapi dapat menjadi model yang dipelajari dan diterapkan oleh institusi lain sesuai dengan kebutuhannya.

Bagi ekosistem inovasi daerah, keberlanjutan dan kemampuan untuk direplikasi menjadi bagian penting dalam menunjukkan bahwa sebuah inovasi memiliki nilai praktis dan tidak berhenti sebagai program sesaat.

Membuka Akses, Merawat Ingatan

Lebih jauh dari teknologi yang digunakan, DIKEMAS membawa sebuah gagasan sederhana: warisan budaya harus semakin mudah dikenali, dipelajari, dan diakses oleh generasi hari ini.

Digitalisasi menjadi jembatan antara warisan masa lalu dan masyarakat masa kini.

Museum Kota Makassar tidak hanya menyimpan benda dan cerita sejarah, tetapi juga menghadirkan cara baru agar cerita tersebut tetap hidup, dikenal, dan dapat dipelajari oleh masyarakat lintas generasi.

Melalui DIKEMAS, Museum Kota Makassar melangkah dari museum yang hadir di satu tempat menuju museum yang dapat dijangkau dari mana saja.

DIKEMAS dalam Ekosistem Inovasi Kota Makassar

DIKEMAS sejalan dengan agenda transformasi digital pemerintah daerah, peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan edukasi kebudayaan, pelestarian sejarah, serta pengembangan pariwisata berbasis teknologi.

Inovasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa transformasi digital dapat diterapkan pada sektor kebudayaan secara konkret. Teknologi digunakan bukan untuk menggantikan museum, tetapi untuk membuat museum lebih terbuka, inklusif, dan relevan.

Bagi Kota Makassar, DIKEMAS menjadi salah satu langkah untuk memastikan bahwa kekayaan sejarah dan kebudayaan kota tidak hanya tersimpan di ruang museum, tetapi juga dapat hadir dalam ruang digital yang lebih luas.

Museum boleh berada di satu tempat. Namun, pengetahuan tentangnya tidak seharusnya memiliki batas.

DIKEMAS — Digitalisasi Kebudayaan Makassar.

Membuka Museum. Memperluas Akses. Menghidupkan Warisan Budaya di Era Digital.

Inovator:
Nur Rahmiani Achmad, S.IP., MM.Par.

Implementasi: 2024
Replikasi: Politeknik STIA LAN Makassar, 2025–2026
Lokasi: Museum Kota Makassar

 

=======-

 

DIKEMAS: From a Physical Museum to a Digital Knowledge Space

(Digitalizing Makassar’s Cultural Heritage through the Makassar City Museum 360° Virtual Tour)

by Dirk Sandarupa

MAKASSAR — Museums no longer have to wait for visitors to arrive.

As the way people access information continues to evolve, the Makassar City Museum has introduced DIKEMAS (Digitalisasi Kebudayaan Makassar, or Makassar Cultural Digitalization), an innovative digital service that allows people to explore the museum virtually through 360° panoramic technology.

The innovation was initiated by Nur Rahmiani Achmad, S.IP., MM.Par., as an effort to create a museum experience that is more accessible, adaptive, educational, and responsive to developments in digital technology.

Through the Makassar City Museum Virtual Tour, people can view the museum’s rooms, explore its exhibition spaces, discover its collections, and learn about the history and culture of Makassar without having to be physically present at the museum.

From a Museum People Visit to a Museum Everyone Can Access

Traditionally, the museum experience has depended heavily on distance, time, opportunity, and visitors’ individual circumstances. Consequently, not everyone has the opportunity to visit a museum in person.

DIKEMAS addresses this challenge by expanding the meaning of museum accessibility.

While people previously had to visit the museum to discover its collections, the museum can now come closer to the community. Through digital devices, people can explore the museum anytime and from anywhere.

This is the central value of DIKEMAS: digitalization is not merely about transferring information into a digital environment. It is about expanding public access to historical and cultural knowledge.

One Innovation, Many Benefits

DIKEMAS was designed not only as a promotional platform for the Makassar City Museum but also as an instrument for strengthening cultural and educational services.

The general public can discover the museum more easily. School and university students can use it as a learning resource. Researchers can gain preliminary access to information about the museum’s collections and exhibition spaces. Tourists can also become familiar with the Makassar City Museum before planning an in-person visit.

For the Makassar City Museum and the Makassar City Culture Office, this innovation serves as an instrument for expanding the reach of public services, strengthening promotion, and creating a museum experience that is more relevant to people’s behaviour in the digital era.

A Museum Without the Limits of Space and Time

The principal strength of DIKEMAS lies in its use of 360° virtual tour technology.

Visitors do not merely view museum photographs passively. Instead, they can enjoy a more interactive experience as they explore the museum’s spaces through digital devices.

This concept transforms the museum from being solely a physical space into a digital knowledge space. As a result, Makassar’s cultural collections and narratives have the opportunity to reach a much wider audience.

From Innovation to a Replicable Model

One of the main strengths of DIKEMAS is its sustainability.

The innovation was first implemented in 2024 and subsequently demonstrated its potential for broader application. During the 2025–2026 period, DIKEMAS was replicated by Politeknik STIA LAN Makassar.

This replication demonstrates that digital innovation in the cultural sector does not end with the creation of a single product. Instead, it can become a model that other institutions can study and adapt to their respective needs.

Within the regional innovation ecosystem, sustainability and replicability are essential indicators that an innovation has practical value and does not merely exist as a temporary programme.

Expanding Access, Preserving Collective Memory

Beyond the technology it employs, DIKEMAS carries a simple but important message: cultural heritage should become increasingly accessible, recognizable, and relevant to today’s generation.

Digitalization serves as a bridge connecting the heritage of the past with the people of the present.

The Makassar City Museum does more than preserve historical objects and stories. It also introduces new ways of ensuring that these stories remain alive, recognized, and accessible to people across generations.

Through DIKEMAS, the Makassar City Museum is evolving from a museum located in one physical place into a museum that can be accessed from anywhere.

DIKEMAS within Makassar’s Innovation Ecosystem

DIKEMAS supports the regional government’s digital transformation agenda, the improvement of public service quality, the strengthening of cultural education, the preservation of history, and the development of technology-based tourism.

This innovation also demonstrates how digital transformation can be applied concretely within the cultural sector. Technology is not being used to replace the museum, but to make it more open, inclusive, accessible, and relevant.

For the City of Makassar, DIKEMAS represents an important step towards ensuring that the city’s rich history and cultural heritage are not confined to museum rooms but can also be presented within a broader digital space.

A museum may stand in one place. However, the knowledge it holds should know no boundaries.

DIKEMAS — Digitalisasi Kebudayaan Makassar.

Opening the Museum. Expanding Access. Bringing Cultural Heritage to Life in the Digital Era.

Innovator:
Nur Rahmiani Achmad, S.IP., MM.Par.

Implementation: 2024
Replication: Politeknik STIA LAN Makassar, 2025–2026
Location: Makassar City Museum