Dari “Hello, My Name Is” ke Personal Branding: Strategi Baru Mahasiswa Pariwisata di Era Digital
Oleh Dr. Dirk Sandarupa
Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata, kemampuan berbahasa asing saja tidak lagi cukup. Dunia kini bergerak ke arah yang lebih kompleks—wisatawan tidak hanya mencari destinasi, tetapi juga pengalaman, cerita, dan koneksi personal. Dalam konteks ini, satu hal yang sering dianggap sederhana justru menjadi kunci: self introduction.
Selama ini, banyak mahasiswa pariwisata masih memperkenalkan diri secara konvensional—sekadar menyebut nama, asal, dan latar belakang pendidikan. Kalimat seperti “Hello, my name is…” seakan menjadi standar yang tidak pernah berubah. Namun, di era digital saat ini, pendekatan tersebut mulai kehilangan daya tarik.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan bahasa dan kemampuan membangun kesan. Padahal, dalam industri pariwisata, kesan pertama bukan hanya penting—melainkan menentukan. Seorang pemandu wisata, tour leader, atau bahkan pelaku usaha hospitality dituntut untuk mampu menghadirkan dirinya sebagai representasi pengalaman yang akan dirasakan wisatawan.
Di sinilah self introduction mengalami transformasi makna. Ia tidak lagi sekadar formalitas, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari personal branding. Cara seseorang memperkenalkan diri kini mencerminkan identitas, nilai, dan keunikan yang dimiliki. Dengan kata lain, self introduction adalah “panggung pertama” untuk membangun citra profesional.
Dalam praktiknya, self introduction yang efektif tidak hanya informatif, tetapi juga naratif. Ia mengandung cerita, emosi, dan konteks budaya. Misalnya, seorang mahasiswa dari Sulawesi Selatan tidak hanya menyebut asal daerahnya, tetapi juga mengaitkannya dengan kekayaan budaya lokal, tradisi, atau bahkan filosofi hidup masyarakatnya. Pendekatan ini tidak hanya membuat perkenalan menjadi lebih hidup, tetapi juga membuka ruang dialog dengan wisatawan.
Menurut Dr. Dirk Sandarupa, self introduction dalam konteks pariwisata tidak boleh berhenti pada identitas dasar semata. “Self introduction adalah pintu masuk menuju pengalaman. Ketika seseorang memperkenalkan dirinya dengan membawa cerita, nilai budaya, dan keunikan lokal, maka ia tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi juga mewakili sebuah peradaban kecil di baliknya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa di era digital, kemampuan ini memiliki nilai strategis yang jauh lebih luas. “Hari ini, wisatawan tidak hanya membeli paket perjalanan, tetapi juga membeli pengalaman yang dipersonalisasi. Personal branding menjadi kunci, dan itu dimulai dari bagaimana kita memperkenalkan diri secara autentik dan berkesan,” jelasnya.
Lebih jauh, di era media sosial dan platform digital, personal branding menjadi semakin penting. Wisatawan masa kini sering kali memilih pemandu wisata atau pengalaman perjalanan berdasarkan persona yang mereka lihat secara online. Hal ini menjadikan kemampuan memperkenalkan diri secara menarik sebagai aset ekonomi, bukan sekadar keterampilan komunikasi.
Namun demikian, tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Banyak mahasiswa masih merasa kurang percaya diri, tidak terbiasa berbicara secara spontan, atau belum menemukan “keunikan” dalam dirinya. Di sinilah peran pendidikan menjadi krusial. Pembelajaran bahasa Inggris, public speaking, dan hospitality seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek linguistik, tetapi juga pada pengembangan identitas dan kepercayaan diri.
Dalam perspektif akademik, self introduction dapat dipahami sebagai bagian dari komunikasi lintas budaya (cross-cultural communication). Ia menjadi jembatan antara latar belakang lokal dan ekspektasi global. Oleh karena itu, mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam cara memperkenalkan diri bukan hanya memperkuat identitas, tetapi juga memperkaya pengalaman wisatawan.
Transformasi ini membuka peluang baru bagi mahasiswa pariwisata. Mereka tidak lagi hanya dipersiapkan sebagai “pekerja” di industri, tetapi sebagai individu yang mampu membawa cerita, membangun relasi, dan menciptakan pengalaman yang berkesan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi “siapa kita?”, tetapi “bagaimana kita ingin dikenang?”. Dan jawabannya bisa dimulai dari satu kalimat sederhana—cara kita memperkenalkan diri.
=======-
From “Hello, My Name Is” to Personal Branding: A New Strategy for Tourism Students in the Digital Era
By. Dr. Dirk Sandarupa
Amid the rapid growth of the tourism industry, speaking a foreign language is no longer enough. The world has shifted toward a more complex landscape—travelers are no longer simply looking for destinations, but for experiences, stories, and personal connections. In this context, something often considered basic has become essential: self-introduction.
For years, many tourism students have introduced themselves in a conventional manner—stating their name, origin, and educational background. Phrases like “Hello, my name is…” seem to remain the standard. However, in today’s digital era, such an approach is gradually losing its impact.
This phenomenon reveals a gap between language proficiency and the ability to create a lasting impression. In tourism, first impressions are not just important—they are decisive. A tour guide, tour leader, or hospitality professional is expected to present themselves as a reflection of the experience they offer.
This is where self-introduction undergoes a transformation. It is no longer a mere formality, but an integral part of personal branding. The way individuals introduce themselves now reflects their identity, values, and uniqueness. In other words, a self-introduction is the “first stage” where professional image is constructed.
In practice, an effective self-introduction goes beyond information—it becomes narrative. It carries stories, emotions, and cultural context. For instance, a student from South Sulawesi should not only mention their place of origin but also connect it with local culture, traditions, or even philosophical values. This approach not only makes the introduction more engaging but also opens space for meaningful interaction with travelers.
According to Dr. Dirk Sandarupa, self-introduction in tourism should go beyond basic identity. “Self-introduction is the gateway to experience. When someone introduces themselves by bringing stories, cultural values, and local uniqueness, they are not only speaking about themselves, but also representing a small civilization behind them,” he explains.
He further emphasizes the strategic importance of this skill in the digital era. “Today, travelers do not simply purchase travel packages—they seek personalized experiences. Personal branding becomes the key, and it begins with how we introduce ourselves authentically and memorably,” he adds.
Furthermore, in the age of social media and digital platforms, personal branding has become increasingly crucial. Modern travelers often choose guides or travel experiences based on the persona they encounter online. This makes the ability to present oneself effectively not just a communication skill, but an economic asset.
However, several challenges remain. Many students still struggle with confidence, lack spontaneity in speaking, or have yet to discover their unique identity. This is where education plays a vital role. English learning, public speaking, and hospitality training should not focus solely on linguistic competence, but also on identity development and self-confidence.
From an academic perspective, self-introduction can be seen as part of cross-cultural communication. It serves as a bridge between local backgrounds and global expectations. Therefore, integrating local wisdom into self-introduction not only strengthens identity but also enriches the traveler’s experience.
This transformation opens new opportunities for tourism students. They are no longer prepared merely as workers in the industry, but as individuals capable of telling stories, building connections, and creating memorable experiences.
Ultimately, the question is no longer “Who are we?” but “How do we want to be remembered?”—and the answer may begin with a simple sentence: the way we introduce ourselves.










