Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

CATATAN PY 2018: CABIN 110 (05)

SERIAL NIPPON MARU

CATATAN PY 2018: CABIN 110 (05)

“Apa kabar?” tanya Lyana, peserta dari Singapura, kepada saya sebagai lawan bicara dalam Sunset Conversation. Kami belum pernah dekat sebelumnya. Saya hanya pernah sekali ikut dalam seminar yang ia adakan di kapal.

“Tidak baik…” jawab saya sambil tersenyum. Saya menceritakan apa yang saya rasakan tentang kepergian Nabili dan niatan yang tadinya ada untuk membatalkan kegiatan ini.

I can relate to that…” kata Lyana sambil menatap saya. Dia menjelaskan betapa ia sangat dekat dengan Faa, dan betapa ia juga sedih Faa harus kembali ke Singapura pada saat Nippon Maru berlabuh di Bangkok. “Tapi coba kamu lihat sekeliling kamu, bagaimana peserta-peserta lain bisa begitu lega mencurahkan isi hati mereka tanpa dihakimi, dan menjalin persahabatan tanpa kepura-puraan dan penerimaan yang tulus satu dengan yang lain; bukankah itu tujuan dari SSEAYP yaitu ‘persahabatan dan kesalingpahaman’?”

“Tapi apa gunanya? Toh kita semua akan meninggalkan kapal ini pada akhirnya…” gumam saya.

Exactly. Ini semua seperti simulasi kehidupan. Kita boleh bersedih tentang kepergian seseorang, tapi kesedihan itu harusnya memotivasi kita untuk semakin giat untuk berbuat kebaikan, bukannya menghentikannya. Lagipula, kalian kan bisa saling mengunjungi setelah program ini selesai.”

Hari-hari sebelum program berakhir kami semua dihimbau untuk menghabiskan waktu dalam kabin masing-masing untuk menghindari penularan virus influenza yang menjangkiti beberapa peserta dalam kapal. Setiap kali ada kesempatan untuk bertemu peserta lain seperti waktu makan atau laundry akan kami gunakan untuk bercengkerama sebaik mungkin, untuk menikmati saat-saat terakhir kebersamaan kami semua.

Ketika kami tiba di Pelabuhan Tokyo, malam terakhir program SSEAYP, saya dan Kaung mulai saling berbicara, dan bertukar cenderamata. Dengan mata berkaca-kaca, tapi sambil tertawa, ia berkata ia berharap Nabili masih ada. Saya hanya membalas dengan senyuman.

13 Desember 2018 dini hari, kontingen demi kontingen meninggalkan Nippon Maru. Ketika tiba giliran kontingen Myanmar, Kaung membangunkan saya dan berpamitan. Dalam keadaan setengah terbangun saya berdiri dan memeluk Kaung. Lalu ia berjalan keluar kabin.

Hening.

Kabin 110 begitu rapi sama seperti ketika kami bertiga baru memasukinya tanggal 1 November 2018.

Begitu rapi dan sepi.

TAMAT – JERRY IPY 2018