Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

CATATAN PY 2018: CABIN 110 (04)

SERIAL NIPPON MARU

CATATAN PY 2018: CABIN 110 (04)

“Nabili pulang,…” katanya sambil menanggapi peserta-peserta asal Brunei yang melapor naik kembali di mejanya. “Nanti saya jelaskan.”

Saya tidak mengerti.

Saya berjalan turun menuju kabin saya dengan kebingungan. Ketika saya sampai di depan kabin saya, saya menunduk untuk membuka koper dan mencari kunci kabin, tapi mata saya sudah kabur dengan air mata. Saya menoleh ke ujung koridor dan Bang Iqbal berjalan mendekat saya—dengan sangat sedih menjelaskan kepada saya kenapa Nabili harus pulang kembali ke Brunei sebelum program selesai.

Saya membuka pintu kabin, dan di kasur A, tidak lagi ada Nabili di situ. Lemarinya pun telah bersih dari barang-barangnya.

Saya tidak bisa menahan sedih dan menangis sendirian di dalam kabin, tapi saya teringat pesan Kak Desy bahwa dalam waktu setengah jam kami harus berkumpul dengan attire A2. Saya membuka bungkusan dari keluarga angkat saya dari Thailand, mereka memberi saya makan siang. Saya menenangkan diri dan makan di dalam kabin.

Kaung masuk ke dalam kabin dengan semangat, dan mulai bertanya tentang apa yang saya alami selama 5 hari di Thailand. Saya menjawabnya dengan datar sambil terus melanjutkan makan siang saya.

“Dimana Nabili? Apakah dia belum kembali?” tanya Kaung kepada saya. Saya tidak menjawab sama sekali, melanjutkan makan siang saya. Kaung keluar dari kabin untuk bersiap bersama kontingen Myanmar untuk Upacara Perpisahan di pelabuhan.

Ketika Open Ship digelar, saya sudah berada di pelabuhan dengan attire A2, begitu juga dengan semua peserta lain. Dari tengah kerumunan saya mendengar suara tangisan keras meraung—Kaung menghampiri saya dengan wajah yang sudah bengkak dan air mata yang membanjir. Nampaknya ia baru saja tahu bahwa Nabili sudah pergi.

“Nabili sudah tidak ada?! Kenapa bisa?!” Kaung memeluk saya sambil menangis.

“Itu sebabnya saya tidak menjawab pertanyaan kamu tadi…”

Setelah hari itu keadaan dalam kabin berubah drastis—saya berusaha untuk tidak bicara dengan Kaung, karena ketika kami mulai berbicara, kami akan bicara tentang Nabili dan kami akan menitikkan air mata. Saya sempat mendengar Kaung menangis dalam toilet sambil memukul dinding toilet dengan keras.

“Saya rasa…” saya berbincang dengan Shuba, peserta dari Singapura yang juga tergabung dalam DG-7, “saya rasa sebaiknya kita batalkan saja kegiatan Sunset Conversation…”

“Saya mengerti ini menyakitkan untuk kamu, kehilangan teman se-kabin setelah kalian begitu dekat. Saya mengerti, karena salah satu teman kontingen kami pun pulang dalam hari yang sama ketika Nabili pulang. Saya mengerti. Saya mengerti. Tapi mari kita lakukan ini untuk mereka; untuk Kuma, untuk Faa, untuk Nabili.”

Sore itu tanggal 1 Desember, dek 8 dipenuhi dengan peserta program yang dengan begitu leluasa saling berbagi kisah hidup—ada tawa, ada tangis, ada kelegaan, ada yang saling menguatkan, ada yang saling mengenal lebih dalam.

Bersambung …