Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

CATATAN PY 2018: CABIN 110 (03)

SERIAL NIPPON MARU

CATATAN PY 2018: CABIN 110 (03)

Dari situlah tercetus sebuah ide untuk melibatkan semua peserta program (sebanyak 300 lebih pemuda dari Jepang dan 10 negara ASEAN) dalam sebuah sesi Deep Conversation, dimana dalam sesi ini, semua peserta diberikan kesempatan untuk berbicara dan berbincang tentang apapun dalam kehidupan pribadi mereka secara mendalam, berdua-berdua, di dek paling atas yaitu dek 8 (Sun Deck), dilaksanakan satu jam sebelum matahari terbenam.

Saya dan Nabili membawa ide ini ke kelompok diskusi kami, dan fasilitator diskusi kami, Nery Ronatay dari Filipina, sangat menyukai ide ini, karena di tengah hiruk pikuk program, para peserta akhirnya diberi ruang untuk membicarakan hal yang mendalam tentang diri mereka sendiri dan tentang harapan dan ketakutan masing-masing peserta.

Kami bersepakat untuk mengadakan Sunset Conversation pada tanggal 1 Desember, setelah POC Thailand, dan sehari sebelum kami tiba di POC terakhir, Viet Nam. Saya tersenyum bangga kepada Nabili karena persahabatan yang dibangun dengan kejujuran dan keterbukaan bisa berdampak dan membawa kebaikan kepada orang lain. Kelompok diskusi kami mematangkan konsep Sunset Conversation dan mengumumkannya kepada semua peserta saat Morning Assembly, yaitu pertemuan yang diadakan tiap pagi di aula Dolphin Hall yang menjadi wadah pengumuman baik dari staf Admin maupun sesama peserta program.

Sehari sebelum kami tiba di Thailand, Nabili harus dirawat di klinik karena batuknya yang kembali kambuh. Saya mendengar dari teman-teman sekontingennya dari Brunei bahwa kemungkinan ia tidak akan turun kapal untuk ikut Country Program Thailand karena harus dirawat di klinik kapal.

Setelah kami menyelesaikan Country Program Thailand, kami kembali ke kapal untuk upacara perpisahan di Pelabuhan Bangkok. Keluarga angkat saya mengantar saya ke pelabuhan kembali ke kapal untuk mempersiapkan diri melakukan Gangway Cheers di sepanjang tangga kapal dengan bendera Indonesia.

Saya menaiki tangga kapal tidak sabar untuk bertemu dengan Nabili, membayangkan kegiatan Sunset Conversation yang akan segera dijalankan dalam waktu 4 hari. Banyak yang masih perlu disiapkan.

Ketika kami masuk ke dalam kapal kami disambut oleh kru kapal yang memegang hand sanitizer untuk membersihkan tangan kami. Setelah saya membersihkan tangan, saya berjalan menuju meja-meja dimana ada 11 National Leaders dari masing-masing negara yang akan mendata peserta dari negaranya yang melapor telah naik kembali ke kapal. Saya tidak bisa menyembunyikan semangat saya ketika berjumpa dengan Kak Desy, yang menggunakan attire A1 menyambut kami kembali ke dalam kapal, mempersilakan saya tanda tangan di lembar lapor naik kembali.

“Siap-siap ya…,” kata Kak Desy sambil saya membubuhkan tanda tangan, “setengah jam lagi kumpul dengan attire A2, dan jangan lupa…” Kak Desy memperagakan cukur kumis dan jenggot untuk kerapihan dalam menggunakan attire A.

Ketika saya mau turun ke lantai 1, saya ingat bahwa kunci kabin saya mungkin terselip di dalam koper, dan daripada kesulitan membongkar koper, lebih baik saya meminta tolong kepada Nabili. Saya bertanya kepada National Leader dari Brunei, Bang Iqbal, apakah Nabili ada di dalam kabin atau di klinik.

BERSAMBUNG