Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

CATATAN PERJALANAN: BATAGOR KAHURIPAN, 25 ANTRIAN, DAN 500 METER PERJUANGAN

Explore Nusantara

CATATAN PERJALANAN: BATAGOR KAHURIPAN, 25 ANTRIAN, DAN 500 METER PERJUANGAN

Kalau ada yang mengatakan makan batagor itu sederhana, mungkin dia belum pernah mencoba Batagor Kahuripan di Pasar Cihapit, Bandung. Di sini, makan bukan sekadar soal perut, tetapi juga soal mental, fisik, kesabaran, dan kemampuan mencari parkir.

Pasar Cihapit memang terkenal sebagai salah satu surganya kuliner Bandung. Puluhan counter makanan memenuhi kawasan pasar dan banyak di antaranya menjadi viral di media sosial. Salah satu yang membuat kami penasaran adalah Batagor Kahuripan.

Tetapi sebelum berhasil mendapatkan batagor, kami harus menyelesaikan tantangan pertama: parkir!

Area parkir pasar sudah penuh. Tidak ada tempat. Akhirnya, kendaraan harus ditinggalkan cukup jauh dan kami berjalan sekitar 500 meter menuju pasar. Lumayan. Sebelum makan batagor, kami sudah mendapatkan bonus olahraga gratis.

Sesampainya di counter, ternyata perjuangan belum selesai.

Antrean sekitar 25 orang!

Kami pun berdiri dengan penuh keikhlasan. Wajah-wajah di depan kami tampak serius. Tidak ada yang mau menyerah. Semua memiliki tujuan yang sama: mendapatkan Batagor Kahuripan.

Yang lebih lucu lagi, setelah memperhatikan orang-orang yang sedang antre, ternyata banyak pembelinya bukan orang Bandung!

Ada wisatawan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, dan berbagai daerah lainnya. Mereka rela datang jauh-jauh, parkir entah di mana, berjalan 500 meter, kemudian berdiri dalam antrean panjang hanya untuk menikmati makanan yang viral.

Saya kemudian teringat sebuah pameo yang sering terdengar di Bandung:

“Kalau ada makanan enak, jangan bilang orang Jakarta. Nanti viral dan harganya naik.”

Ternyata pameo tersebut semakin relevan di zaman media sosial. Begitu sebuah makanan dianggap enak dan mulai viral, wisatawan dari berbagai kota segera berdatangan. Instagram, TikTok, YouTube, dan rekomendasi dari teman seolah-olah telah menjadi agen promosi gratis bagi para pedagang kuliner.

Akhirnya, setelah perjalanan 500 meter, antrean 25 orang, dan perjuangan melawan rasa lapar, tibalah saatnya menikmati Batagor Kahuripan.

Kesimpulannya sederhana:

Batagornya mungkin hanya beberapa potong, tetapi perjuangannya sudah seperti ekspedisi wisata kuliner.

Dan ternyata, untuk menikmati kuliner viral di Bandung, kita tidak hanya membutuhkan uang.

Kita membutuhkan waktu, tenaga, kesabaran, dan yang paling penting: tempat parkir!

Pasar Cihapit membuktikan bahwa makanan enak memang tidak mengenal batas kota. Yang datang bukan hanya warga Bandung, tetapi para pemburu rasa dari seluruh Indonesia.

=======-

TRAVEL NOTES: BATAGOR KAHURIPAN, 25 PEOPLE IN LINE, AND A 500-METER WALK

If anyone says that eating batagor is a simple affair, they probably have never tried Batagor Kahuripan at Cihapit Market, Bandung. Here, eating is not merely about satisfying your stomach—it is also a test of mental strength, physical endurance, patience, and parking skills.

Cihapit Market is well known as one of Bandung’s culinary havens. Dozens of food stalls fill the market, and many of them have become viral on social media. One of the places that caught our attention was Batagor Kahuripan.

But before we could enjoy the batagor, we had to face the first challenge:

Parking!

The market parking area was already completely full. There was simply nowhere to park. Eventually, we had to leave the vehicle quite far away and walk approximately 500 meters to reach the market.

Not bad. Before eating batagor, we had already received a free workout session.

Once we arrived at the stall, however, the struggle was far from over.

There were about 25 people in line!

So we stood there patiently, accepting our culinary destiny. The people ahead of us looked extremely serious. Nobody wanted to give up. Everyone had the same mission:

Get the Batagor Kahuripan!

What made it even funnier was that, after observing the people in line, we realized that many of them were not from Bandung at all!

There were tourists from East Java, Central Java, Jakarta, and various other regions. They were willing to travel long distances, park God-knows-where, walk 500 meters, and then stand in a long queue just to taste a viral local dish.

It reminded me of a popular Bandung saying:

“If you find delicious food, don’t tell people from Jakarta. Otherwise, it will go viral and the price will go up.”

The saying seems even more relevant in the age of social media. Once a food stall becomes famous for serving something delicious, tourists from different cities quickly arrive. Instagram, TikTok, YouTube, and recommendations from friends have effectively become free marketing agents for local food vendors.

Finally, after a 500-meter walk, a 25-person queue, and a serious battle against hunger, the moment arrived:

Time to enjoy Batagor Kahuripan!

The conclusion was simple:

The batagor may have been only a few pieces, but getting it felt like a full culinary expedition.

And apparently, enjoying viral food in Bandung requires more than money.

You need time, energy, patience—and most importantly, a parking space!

Cihapit Market proves that good food knows no city boundaries. The customers are not only Bandung locals, but food hunters traveling from all over Indonesia.