BRODIN DI MALAYSIA: TERLALU SERUMPUN SAMPAI LUPA BEDANYA
Brodin berada di Kuala Lumpur, siang hari. Cuaca panas lembap, tapi suasananya terasa akrab. Bahasa terdengar familiar, wajah-wajah mirip kampung halaman. Brodin berjalan santai dengan jas hitam, kaos merah sleret-sleret khas Madura, kamera di leher. Kali ini ia lebih berani tersenyum.
Ia masuk ke sebuah kedai makan.
Penjual:
“Apa mau makan?”
(Mau makan apa?)
Brodin refleks menjawab cepat.
Brodin:
“Nasi, Bu.”
(Nasi, Bu.)
Penjual berhenti sebentar.
Penjual:
“Nasi apa?”
(Nasi yang mana?)
Brodin terdiam. Mulut tertutup.
Di Indonesia, “nasi” sering cukup.
Di Malaysia, tidak.
Brodin:
“Oh… nasi lemak.”
(Nasi lemak.)
Penjual mengangguk.
Penjual:
“Pedas?”
(Pedas?)
Brodin (jujur):
“Sedikit.”
(Sedikit.)
Makanannya datang. Sambalnya merah menyala.
Brodin makan. Matanya sedikit berair, tapi wajah tetap tenang.
Penjual datang lagi.
Penjual:
“Sedap?”
(Enak?)
Brodin tersenyum sopan.
Brodin:
“Sedap.”
(Enak.)
Tidak pakai tambahan apa pun.
Penjual puas.
Seorang pria duduk di meja sebelah.
Pria:
“Abang dari Indonesia ya?”
(Kamu dari Indonesia ya?)
Brodin:
“Iya.”
(Iya.)
Pria:
“Cakap macam orang sini.”
(Bicaranya seperti orang sini.)
Brodin tertawa kecil.
Brodin:
“Kita serumpun.”
(Kita satu rumpun.)
Pria itu mengangguk setuju.
Saat membayar:
Penjual:
“Dua belas ringgit.”
(Dua belas ringgit.)
Brodin menyerahkan uang.
Brodin:
“Terima kasih.”
(Terima kasih.)
Penjual:
“Sama-sama.”
(Sama-sama.)
Keluar dari kedai, Brodin duduk sebentar. Senyumnya lebar kali ini. Ia menulis di buku kecilnya:
“Di Malaysia, bahasa hampir sama.
Justru itu bikin lengah.
Bedanya kecil, tapi penting.”
TIM
=======-
Brodin in Malaysia: Too Familiar, Too Confident
Brodin arrived in Kuala Lumpur and felt comfortable immediately.
The language sounded familiar.
Too familiar.
When asked what he wanted to eat, Brodin answered “rice.”
That was not enough.
Rice needed details.
The sambal was spicier than expected, but Brodin stayed calm.
Indonesian survival skill.
People quickly recognized him as Indonesian—not by his face, but by his politeness.
Brodin wrote:
“In Malaysia, everything feels familiar.
That’s the danger.
Small differences matter the most.”
THE TEAM










