ASTINDO Sulsel Bahas Strategi “Upskilling Europe Outbound Tour”: Tantangan, Halal Tourism, dan Peluang Generasi Muda
oleh Dirk Sandarupa
Makassar– Dewan Pimpinan Daerah (DPD) ASTINDO Sulawesi Selatan sukses menyelenggarakan seminar bertajuk “Upskilling Europe Outbound Tour”** yang menghadirkan praktisi industri perjalanan internasional sebagai narasumber. Kegiatan yang semula dijadwalkan di Politeknik Pariwisata Makassar akhirnya dipindahkan ke Almadera Hotel Makassar, dengan dihadiri pelaku industri perjalanan, akademisi, mahasiswa, serta masyarakat yang memiliki minat terhadap pariwisata internasional.
Seminar dipandu oleh Nurhayat, Ketua DPD ASTINDO Sulawesi Selatan, bersama Priyadi Abadi, Wakil Ketua Bidang SDM dan Vokasi DPP ASTINDO, yang membahas kesiapan sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi dinamika wisata outbound menuju kawasan Eropa.
Salah satu pokok pembahasan adalah berbagai tantangan yang kerap dihadapi wisatawan Indonesia ketika melakukan perjalanan ke negara-negara Eropa. Berbeda dengan destinasi domestik maupun Asia Tenggara, perjalanan ke Eropa menuntut kemampuan adaptasi yang lebih tinggi.
Beberapa tantangan utama yang disampaikan meliputi keterbatasan pemandu wisata lokal (local guide) yang mampu berbahasa Indonesia, pengemudi (driver) yang umumnya tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi utama, serta ketergantungan aktivitas wisata terhadap kondisi musim, baik summer maupun winter, yang sangat memengaruhi jadwal perjalanan, kenyamanan wisatawan, hingga operasional destinasi wisata.
Pembahasan lain yang mendapat perhatian peserta adalah perkembangan halal tourism di Eropa. Menurut Siti Muslikah Haspan, mahasiswa Program Studi Pariwisata Universitas Hasanuddin, kebutuhan wisata halal semakin meningkat seiring bertambahnya wisatawan Muslim Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia membutuhkan paket perjalanan yang tidak hanya menawarkan destinasi menarik, tetapi juga memperhatikan akses makanan halal, fasilitas ibadah, serta layanan yang ramah terhadap wisatawan Muslim.
Selain itu, ia menilai bahwa sebagian besar biro perjalanan di Indonesia masih berorientasi pada penyelenggaraan ibadah umrah, sehingga pengembangan paket wisata halal ke Eropa masih memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan.
Siti juga menyoroti meningkatnya kelas menengah Indonesia yang kini memiliki daya beli lebih tinggi untuk melakukan perjalanan internasional. Fenomena tersebut semakin diperkuat oleh peran media sosial, yang mampu membentuk tren perjalanan, memperkenalkan destinasi baru, serta meningkatkan minat masyarakat untuk menjelajahi berbagai negara di Eropa.
Seminar ini juga menarik perhatian mahasiswa lintas disiplin ilmu. Salah satunya adalah Andi Tiara Shafira Putri Hasan, mahasiswa Jurusan Pertanian Universitas Hasanuddin. Meskipun berasal dari bidang ilmu pertanian, ia mengaku tertarik mengikuti seminar karena melihat pariwisata sebagai sektor yang memiliki hubungan erat dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk pertanian, lingkungan, budaya, dan ekonomi kreatif.
Menurutnya, pemahaman mengenai industri pariwisata global menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk membuka peluang kolaborasi lintas sektor di masa depan.
Melalui seminar ini, ASTINDO Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di bidang perjalanan internasional, sekaligus mempersiapkan pelaku industri pariwisata Indonesia agar mampu bersaing dalam pasar global melalui peningkatan keterampilan, pemahaman budaya, serta inovasi layanan wisata yang adaptif terhadap kebutuhan wisatawan modern.
=======-
ASTINDO South Sulawesi Highlights Europe Outbound Tour Upskilling: Addressing Challenges, Halal Tourism, and Opportunities for the Younger Generation
by Dirk Sandarupa
Makassar – The Regional Board of the Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASTINDO) South Sulawesi successfully organized a seminar entitled “Upskilling Europe Outbound Tour,” bringing together tourism practitioners, academics, students, and travel enthusiasts to discuss the future of Indonesia’s outbound tourism to Europe.
Originally scheduled to take place at the Makassar Tourism Polytechnic, the seminar was later relocated to Almadera Hotel Makassar. The event featured Nurhayat, Chairman of ASTINDO South Sulawesi, alongside Priyadi Abadi, Vice Chairman for Human Resources and Vocational Affairs of ASTINDO National Board (DPP ASTINDO), who shared valuable insights into preparing Indonesian tourism professionals for the European travel market.
One of the seminar’s primary discussions focused on the practical challenges frequently encountered by Indonesian travelers visiting Europe. Unlike domestic destinations or neighboring Southeast Asian countries, traveling across Europe requires greater adaptability and preparation.
Among the major issues highlighted were the limited availability of local tour guides who can communicate in Indonesian, drivers who often have limited English proficiency, and the strong dependence of travel activities on seasonal conditions, particularly summer and winter, which significantly influence travel itineraries, tourist experiences, and destination operations.
Another important topic was the growing demand for Halal Tourism in Europe. According to Siti Muslikah Haspan, a student of the Tourism Study Program at Hasanuddin University, the increasing number of Indonesian Muslim travelers has created greater demand for travel packages that accommodate Islamic needs.
She explained that, as the world’s largest Muslim-majority country, Indonesia requires outbound travel services that provide not only attractive destinations but also halal-certified food, accessible prayer facilities, and Muslim-friendly tourism services throughout Europe.
Siti also pointed out that most Indonesian travel agencies continue to focus primarily on Umrah pilgrimage packages, leaving significant opportunities to expand the market for halal leisure tourism across European destinations.
Furthermore, she emphasized that Indonesia’s expanding middle-class population has contributed to the increasing demand for international travel. This trend has been further accelerated by the influence of social media, which plays an essential role in introducing new destinations, inspiring travel experiences, and encouraging more Indonesians to explore Europe.
The seminar also attracted participants from various academic disciplines. One of them was Andi Tiara Shafira Putri Hasan, a student from the Department of Agriculture, Hasanuddin University. Although her academic background is outside tourism, she expressed a strong interest in participating because she believes tourism is closely connected with agriculture, environmental sustainability, local culture, and the creative economy.
She stated that understanding the global tourism industry provides valuable interdisciplinary knowledge and opens opportunities for future collaboration across different sectors.
Through this seminar, ASTINDO South Sulawesi reaffirmed its commitment to strengthening the competencies of Indonesia’s tourism workforce. By enhancing professional skills, cross-cultural understanding, and service innovation, the organization aims to better prepare Indonesian tourism professionals to compete in the increasingly dynamic global outbound travel industry.










