Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

Analisis Akademis: RURITAGE Majalengka – Pengembangan Pariwisata Berbasis Warisan Budaya dan Lanskap Desa #01/03

Analisis Akademis

RURITAGE Majalengka: Pengembangan Pariwisata Berbasis Warisan Budaya dan Lanskap Desa #01/03

Oleh: Dr. Endi Rochaendi (Wartawan Koran Pariwisata)

Perkembangan wacana pembangunan berkelanjutan dalam dua dekade terakhir menunjukkan pergeseran paradigma dari eksploitasi sumber daya menuju pendekatan yang menempatkan budaya dan lingkungan sebagai fondasi pembangunan jangka panjang. Dalam konteks ini, wilayah pedesaan tidak lagi dipahami semata sebagai ruang produksi agraris, melainkan sebagai lanskap budaya yang memuat memori kolektif, praktik sosial, dan sistem pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Kabupaten Majalengka di Jawa Barat menghadirkan contoh nyata dari konfigurasi tersebut, di mana pertemuan antara alam perbukitan, lahan pertanian, serta tradisi masyarakat desa membentuk ekosistem budaya yang hidup. Melalui kerangka RURITAGE, pengembangan pariwisata di wilayah ini dapat diarahkan pada penguatan hubungan antara warisan budaya dan lanskap desa sebagai sumber daya regeneratif.

Pendekatan RURITAGE berangkat dari pemahaman bahwa warisan budaya bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan sistem nilai dan praktik yang terus berkembang dalam kehidupan masyarakat. Warisan tersebut mencakup tradisi lisan, ritus adat, seni pertunjukan, kuliner lokal, hingga teknik pengelolaan lahan yang diwariskan secara turun-temurun. Ketika warisan ini ditempatkan dalam konteks lanskap desa, ia membentuk jaringan makna yang menyatukan manusia, alam, dan sejarah. Dengan demikian, pengembangan pariwisata berbasis RURITAGE tidak hanya berorientasi pada atraksi visual, tetapi juga pada pengalaman budaya yang memungkinkan pengunjung memahami relasi mendalam antara masyarakat dan ruang hidupnya.

Lebih jauh, lanskap desa di Majalengka dapat dipahami sebagai teks budaya yang terbuka untuk ditafsirkan. Hamparan sawah terasering, aliran sungai kecil, hutan rakyat, serta jalur-jalur lama antar kampung mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap kondisi ekologis sekaligus menjadi latar bagi ritual dan tradisi musiman. Lanskap tersebut bukan sekadar panorama, melainkan ruang yang menyimpan jejak kerja kolektif dan nilai-nilai keberlanjutan. Dalam kerangka RURITAGE, penguatan lanskap sebagai bagian dari pariwisata budaya berarti menjaga keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan pelestarian ekologi, sehingga desa tetap menjadi ruang hidup yang produktif sekaligus lestari.

Sejalan dengan itu, pengembangan pariwisata berbasis warisan budaya menuntut proses identifikasi yang cermat terhadap potensi lokal. Inventarisasi tradisi, cerita rakyat, praktik pertanian, dan seni pertunjukan perlu dilakukan secara partisipatif agar masyarakat desa menjadi subjek utama dalam penentuan arah pengembangan. Proses ini bukan hanya menghasilkan data, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif tentang nilai budaya yang dimiliki. Ketika masyarakat terlibat aktif dalam mengenali warisannya, pariwisata tidak dipandang sebagai intervensi eksternal, melainkan sebagai kelanjutan dari praktik budaya yang telah lama hidup.

 

=======-

RURITAGE Majalengka: Tourism Development Based on Cultural Heritage and Rural Landscapes #01/03
By: Dr. Endi Rochaendi (Journalist, Koran Pariwisata)

The evolution of sustainable development discourse over the past two decades indicates a paradigm shift from resource exploitation toward approaches that position culture and the environment as the foundations of long-term development. In this context, rural areas are no longer understood merely as spaces for agrarian production, but rather as cultural landscapes that embody collective memory, social practices, and systems of knowledge transmitted across generations. Majalengka Regency in West Java presents a concrete example of such a configuration, where the convergence of hilly natural environments, agricultural land, and village traditions forms a living cultural ecosystem. Through the RURITAGE framework, tourism development in this region can be directed toward strengthening the relationship between cultural heritage and rural landscapes as regenerative resources.

The RURITAGE approach is grounded in the understanding that cultural heritage is not simply an artifact of the past, but a system of values and practices that continues to evolve within community life. This heritage encompasses oral traditions, customary rituals, performing arts, local cuisine, and land management techniques passed down through generations. When situated within the context of rural landscapes, this heritage forms a network of meanings that unites people, nature, and history. Consequently, tourism development based on RURITAGE is oriented not only toward visual attractions, but also toward cultural experiences that enable visitors to comprehend the deep relationship between communities and their living spaces.

Furthermore, the rural landscapes of Majalengka can be understood as open cultural texts subject to interpretation. Terraced rice fields, small river flows, community-managed forests, and long-established inter-village pathways reflect local adaptations to ecological conditions while simultaneously serving as settings for rituals and seasonal traditions. These landscapes are not merely scenic views, but spaces that preserve traces of collective labor and values of sustainability. Within the RURITAGE framework, strengthening landscapes as components of cultural tourism entails maintaining a balance between economic utilization and ecological conservation, ensuring that villages remain productive yet sustainable living spaces.

In line with this, tourism development based on cultural heritage requires careful identification of local potential. Participatory inventories of traditions, folklore, agricultural practices, and performing arts must be conducted so that village communities become the primary subjects in determining development directions. This process not only generates data, but also strengthens collective awareness of existing cultural values. When communities are actively involved in recognizing their heritage, tourism is no longer perceived as an external intervention, but rather as a continuation of long-standing cultural practices.