Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

ANALISIS AKADEMIS GRAFIK TPK HOTEL BALI 2019 – 2025

From the Executive

ANALISIS AKADEMIS GRAFIK TPK HOTEL BALI 2019 – 2025

(1) Pola Umum dan Fase Perkembangan
Grafik menunjukkan tiga fase yang jelas: pra-pandemi (2019), fase kontraksi tajam (2020–2021), dan fase pemulihan–konsolidasi (2022–2025). Pada 2019, TPK hotel bintang mencapai ±63,5%, sedangkan hotel non-bintang ±42%, mencerminkan kondisi pasar yang relatif sehat sebelum krisis global.

(2) Dampak Pandemi terhadap Hunian Hotel
Pada periode 2020–2021 terjadi penurunan ekstrem. TPK hotel bintang turun hingga ±28,1% pada 2021, sementara hotel non-bintang merosot ke ±22,3%. Penurunan lebih tajam pada hotel non-bintang mengindikasikan keterbatasan daya tahan usaha kecil–menengah akomodasi dibanding hotel berbintang yang umumnya memiliki cadangan modal dan akses pasar yang lebih luas.

(3) Pemulihan Pasca-Pandemi
Mulai 2022, pemulihan berlangsung cepat. Hotel bintang melonjak ke ±54,6% (2022) dan stabil di atas 60% pada 2023–2024, sebelum sedikit terkoreksi ke ±60,8% pada 2025. Hal ini menunjukkan bahwa pasar akomodasi formal telah kembali ke zona aman operasional, meskipun belum mencapai tingkat optimal destinasi matang (70–75%).

(4) Kesenjangan Hotel Bintang dan Non-Bintang
Sepanjang periode pemulihan, gap TPK antara hotel bintang dan non-bintang tetap lebar (±20–25 poin persentase). Pada 2025, TPK non-bintang hanya ±36,2%, menurun dibanding 2024. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh meningkatnya persaingan dari vila, short-term rental, dan akomodasi informal berbasis platform digital yang sebagian besar tidak tercatat dalam statistik resmi.

(5) Kesesuaian dengan Perencanaan Pariwisata Bali
Jika dibandingkan dengan arah perencanaan pariwisata Bali yang menekankan quality tourism dan pengendalian kapasitas, realisasi TPK 2025 menunjukkan kondisi cukup selaras secara makro, namun masih menyisakan tantangan struktural. Stabilnya TPK hotel bintang mengindikasikan keberhasilan menarik wisatawan berdaya beli lebih tinggi, sementara lemahnya TPK non-bintang menandakan perlunya kebijakan afirmatif agar pemulihan pariwisata lebih inklusif dan merata.

JS BUDI – dari berbagai sumber