AI & PAPERLESS
Pandemi Covid-19 kemarin memaksa umat manusia di dunia mengarah pada era 5.0. Mereka ternina-bobokkan oleh kenikmatan digitalisasi, sehingga lupa bahkan membuang materi bersifat printing.
Kampanye paperless terwujud mendekati kesempurnaan. Maknanya, barang berupa cetakan menjadi langkah. Perpustakaan isinya e-book dan e-documentation. Sekolah, kuliah dan kerja cukup bawa gadget. Tidak ada yang salah pada perilaku manusia di era itu, karena evolusi teknologi telah membawa mereka pada pola kehidupan seperti itu.
Kebayang, semua percetakan alkitab sudah tutup, lantaran alkitab agama apapun sudah tertransformasi menjadi digital words, digital sound dan digital video. Jangan kaget kalau yang soleh justru gadgetnya. Mereka hanya mendengar suara rekaman orang ngaji atau kutbah baik dalam versi audio maupun video.
Waktu berjalan, alkitab printing jadi barang langkah. Tiba-tiba terjadi serangan virus digital mematikan. Persis seperti covid, bahkan mungkin lebih dahsyat. Setiap gadget dibuka, semua program hilang.
Manusia baru sadar bahwa hari kiamat sudah di depan mata: mereka tidak memiliki alkitab lagi untuk dibaca. Sementara mereka tidak pernah membaca sampai selesai (qatam) isi dari alkitab mereka, apalagi menghapalkannya.
Ngeri.
TIM










