Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

Aceh Darussalam: Ketika Islam Menjadi Kekuatan Ilmu dan Politik

Sejarah

Aceh Darussalam: Ketika Islam Menjadi Kekuatan Ilmu dan Politik

Setelah Samudera Pasai dan Perlak meletakkan fondasi awal, tonggak penting penyebaran Islam di Nusantara berlanjut pada berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam pada awal abad ke-16 Masehi. Kerajaan ini resmi berdiri sekitar tahun 1514 M di bawah Sultan Ali Mughayat Syah dan dengan cepat berkembang menjadi pusat kekuasaan Islam di Sumatra. Letaknya yang strategis di ujung utara Selat Malaka menjadikan Aceh bukan hanya pelabuhan dagang, tetapi juga “gerbang intelektual” Islam Nusantara. Di sini, agama, politik, dan perdagangan duduk semeja—tanpa harus debat kusir.

Aceh Darussalam dikenal luas sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu keislaman. Sejumlah ulama besar pernah berkiprah di Aceh, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, dan Nuruddin ar-Raniri pada abad ke-16 hingga ke-17 M. Mereka menulis karya tasawuf dan fikih yang berpengaruh hingga ke Jawa dan Semenanjung Melayu. Sejarawan Anthony Reid (2006) mencatat bahwa Aceh pada masa itu setara dengan pusat-pusat Islam besar di Asia Tenggara, sekaligus menjadi tempat singgah para pelajar sebelum melanjutkan studi ke Mekkah.

Menariknya, penyebaran Islam di Aceh juga ditopang oleh kekuatan politik yang relatif stabil. Sultan Iskandar Muda (memerintah 1607–1636 M) menjadikan Islam sebagai dasar hukum dan administrasi kerajaan, tanpa menyingkirkan adat setempat. Sistem hukum Islam diterapkan berdampingan dengan hukum adat, menciptakan keseimbangan sosial yang cukup rapi untuk ukuran zamannya. Di Aceh, Islam tidak hanya dipelajari, tetapi juga dipraktikkan dalam tata kelola negara—lengkap dengan aturan, tetapi tetap bernapas lokal.

Dari Aceh Darussalam, pengaruh Islam menyebar ke Minangkabau, Riau, Kalimantan, hingga pesisir Jawa. Banyak ulama dan bangsawan Jawa tercatat belajar ke Aceh sebelum kembali ke daerahnya sebagai penyebar Islam. Dengan demikian, Aceh berfungsi sebagai “menara suar” yang menerangi jalur Islamisasi Nusantara. Jika Samudera Pasai adalah pintu masuk dan Perlak adalah ruang tamu, maka Aceh Darussalam adalah ruang kelas besar tempat Islam diajarkan dengan serius—namun tetap manusiawi.

TIM

 

=======-

Aceh Darussalam: When Islam Became a Force of Knowledge and Governance

Following the foundational roles of Samudera Pasai and Perlak, a major milestone in the spread of Islam in the archipelago emerged with the establishment of the Aceh Darussalam Sultanate in the early sixteenth century. Officially founded around 1514 CE under Sultan Ali Mughayat Syah, Aceh rapidly developed into a dominant Islamic power in Sumatra. Its strategic location at the northern entrance of the Malacca Strait transformed Aceh into both a commercial hub and an intellectual gateway of Islamic learning in the region.

Aceh Darussalam gained prominence as a center of Islamic scholarship. Distinguished scholars such as Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, and Nuruddin ar-Raniri were active there during the sixteenth and seventeenth centuries, producing influential works on Islamic jurisprudence and Sufism. Historian Anthony Reid (2006) notes that Aceh rivaled major Islamic centers in Southeast Asia and served as an important stopover for students traveling to Mecca for advanced studies.

The spread of Islam in Aceh was also supported by strong political leadership. During the reign of Sultan Iskandar Muda (1607–1636 CE), Islamic law became the foundation of governance while local customs were preserved. Islamic legal principles were applied alongside customary law, creating a balanced social order. In Aceh, Islam was not merely studied as theology but implemented as a practical framework for state administration.

From Aceh Darussalam, Islamic influence extended to Minangkabau, Riau, Kalimantan, and the northern coast of Java. Numerous Javanese scholars and nobles studied in Aceh before returning home to disseminate Islam. Aceh thus functioned as a guiding beacon in the Islamization of the archipelago. If Samudera Pasai was the entry point and Perlak the reception hall, Aceh Darussalam became the grand classroom where Islam was taught systematically and thoughtfully.

THE  TEAM