Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira Eka Wira
Berita  

37th ASEAN-Japan SSEAYP Reunion – Lombok 2026: Pariwisata Indonesia di Mata Jepang, Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Brunei

From The Executive

37th ASEAN-Japan SSEAYP Reunion – Lombok 2026: Pariwisata Indonesia di Mata Jepang, Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Brunei

Oleh JS Budi

37th ASEAN-Japan SSEAYP Reunion – Lombok 2026 bukan sekadar pertemuan kembali para alumni dari Jepang dan negara-negara ASEAN. Kegiatan ini merupakan sebuah platform strategis bagi diplomasi budaya, penguatan hubungan antarmasyarakat (people-to-people connectivity), serta promosi Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang kompetitif dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, Jepang, Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam memberikan perspektif penting dalam memahami posisi Indonesia dalam lanskap pariwisata regional.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mencatat 8,98 juta kunjungan wisatawan mancanegara selama Januari–Juli 2026, meningkat 5,23% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Pertumbuhan kunjungan wisatawan dari kawasan Asia Tenggara mencapai 7,32%, sedangkan kunjungan dari pasar Asia lainnya tumbuh 8,69%. Pada Juli 2026 saja, Indonesia menerima 1,53 juta kunjungan wisatawan mancanegara, atau meningkat 2,95% secara tahunan.

Signifikansi pariwisata juga terlihat dari kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa penerimaan devisa pariwisata mencapai US$8,43 miliar pada semester pertama 2026, atau sekitar Rp145,13 triliun. Sementara itu, kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025 mencapai 4,78%, dengan nilai sekitar Rp1.139 triliun.

Dari perspektif Jepang, Indonesia memiliki potensi besar melalui wisata budaya, warisan sejarah, alam, kesehatan dan kebugaran (wellness), gastronomi, serta pariwisata berkelanjutan. Bagi Malaysia dan Brunei, kedekatan geografis, wisata keluarga, pariwisata ramah Muslim, belanja, serta pengalaman kuliner menjadi peluang pasar yang kuat. Singapura merupakan pasar penting untuk wisata jarak pendek, pariwisata premium, MICE, wellness, dan perjalanan akhir pekan. Sementara itu, Thailand dan Filipina memiliki peluang dalam pengembangan wisata bahari, wisata generasi muda, ekonomi kreatif, dan pertukaran budaya.

Dalam konteks ini, Lombok perlu menjadi bagian penting dari narasi pariwisata Indonesia yang tidak lagi hanya berpusat pada Bali. Kekayaan budaya Sasak, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, pantai, sumber daya bahari, tradisi masyarakat lokal, dan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat memberikan identitas destinasi yang khas. Pemilihan Lombok sebagai lokasi SSEAYP menciptakan hubungan strategis antara diplomasi pariwisata dan diplomasi budaya.

Sebagaimana ditekankan oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, keberhasilan pariwisata tidak semata-mata diukur berdasarkan jumlah wisatawan, tetapi juga melalui lama tinggal, pengeluaran wisatawan, aktivitas ekonomi, serta manfaat yang diterima masyarakat lokal.

Dengan demikian, 37th ASEAN-Japan SSEAYP Reunion – Lombok 2026 dapat diposisikan sebagai momentum strategis untuk memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi yang autentik secara budaya, bertanggung jawab terhadap lingkungan, bernilai ekonomi tinggi, inklusif secara sosial, dan terkoneksi secara regional. Melalui SSEAYP, pariwisata tidak hanya menjadi sektor ekonomi, tetapi juga instrumen persahabatan regional, pemahaman lintas budaya, dan pembangunan berkelanjutan.

=======-

 

37th ASEAN-Japan SSEAYP Reunion – Lombok 2026: Indonesian Tourism Through the Eyes of Japan, the Philippines, Thailand, Malaysia, Singapore, and Brunei

The 37th ASEAN-Japan SSEAYP Reunion – Lombok 2026 represents more than a reunion of former participants from Japan and ASEAN countries. It provides a strategic platform for cultural diplomacy, people-to-people connectivity, and the promotion of Indonesia as a competitive and sustainable tourism destination. In this context, Japan, the Philippines, Thailand, Malaysia, Singapore, and Brunei Darussalam represent important perspectives for understanding Indonesia’s position within the regional tourism landscape.

According to Statistics Indonesia (BPS), Indonesia recorded 8.98 million international tourist arrivals during January–July 2026, an increase of 5.23% compared with the same period in 2025. Tourism growth from Southeast Asia increased by 7.32%, while arrivals from other Asian markets grew by 8.69%. In July alone, Indonesia received 1.53 million international visitors, representing a 2.95% year-on-year increase.

The economic significance is equally substantial. Minister of Tourism Widiyanti Putri Wardhana reported that tourism foreign-exchange earnings reached US$8.43 billion in the first half of 2026, equivalent to approximately Rp145.13 trillion, while tourism contributed 4.78% to Indonesia’s GDP in 2025, or approximately Rp1.139 trillion.

From the perspective of Japan, Indonesia offers opportunities in cultural heritage, nature, wellness, gastronomy, and sustainable tourism. For Malaysia and Brunei, geographical proximity, family travel, Muslim-friendly tourism, shopping, and culinary experiences create strong market potential. Singapore represents an important short-haul and premium market, including leisure, MICE, wellness, and weekend travel. Meanwhile, Thailand and the Philippines provide opportunities for marine tourism, youth travel, creative tourism, and cultural exchange.

Importantly, Lombok should become part of Indonesia’s international tourism narrative beyond Bali. Its Sasak culture, Mandalika tourism area, beaches, marine resources, indigenous traditions, and community-based tourism provide a distinctive destination identity. The Lombok setting of SSEAYP therefore creates a meaningful connection between tourism diplomacy and cultural diplomacy.

As Minister Widiyanti emphasizes, tourism should not be measured merely by the number of visitors, but by length of stay, tourist expenditure, economic activity, and benefits received by local communities.

Consequently, the 37th ASEAN-Japan SSEAYP Reunion – Lombok 2026 can be positioned as a strategic moment to strengthen Indonesia’s image as a destination that is culturally authentic, environmentally responsible, economically valuable, socially inclusive, and regionally connected. Through SSEAYP, tourism becomes not merely an economic sector, but an instrument of regional friendship, cultural understanding, and sustainable development.